Presiden Prabowo menegaskan kekuatan bersama negara-negara BRICS tidak boleh hanya berhenti dalam bentuk dokumen, deklarasi, atau kesepakatan formal.
Menurut Kepala Negara, kekuatan tersebut harus diwujudkan menjadi peluang yang membuka jalan bagi kemajuan masyarakat sekaligus memperbesar peran Global South dalam menentukan arah masa depannya sendiri.
“Inilah jenis kekuatan kolektif yang kita butuhkan. Kekuatan yang tidak berhenti di atas kertas, tetapi diterjemahkan menjadi peluang bagi masyarakat kita. Kekuatan yang memungkinkan Global South memiliki suara yang lebih besar dalam membentuk masa depannya sendiri,” ujar Presiden Prabowo.
Bagi Indonesia, penguatan kerja sama BRICS memiliki arti strategis karena forum tersebut dapat menjadi ruang bagi negara-negara berkembang untuk memperjuangkan kepentingan bersama dalam sistem internasional yang terus berubah.
Presiden Prabowo menilai kekuatan kolektif yang dimiliki BRICS juga harus diarahkan untuk membangun tatanan dunia yang lebih adil dan setara.
Dengan kerja sama yang semakin kuat, negara-negara BRICS diharapkan mampu memastikan suara dan kepentingan Global South memperoleh tempat yang lebih besar dalam proses pengambilan keputusan di tingkat global.
“Kekuatan yang sama juga harus digunakan untuk membangun tatanan internasional yang lebih adil dan setara. Bersama-sama, kita dapat membuat kekuatan kita diperhitungkan,” imbuh Kepala Negara.
Deklarasi New Delhi pun menjadi salah satu hasil penting KTT BRICS 2026 yang memperlihatkan tekad negara-negara anggota untuk memperkuat kerja sama di tengah perubahan geopolitik, ekonomi, dan tata kelola dunia.


















































Discussion about this post