Dalam pemaparan yang diterima Presiden, Tenaga Ahli Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Brigjen TNI (Purn.) Asrianus Bulo, melaporkan hasil pemantauan titik panas selama 24 jam berdasarkan data satelit.
Hasil pemantauan tersebut menunjukkan adanya 198 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi yang terdeteksi di berbagai wilayah Kalimantan Barat.
Selain itu, terdapat sekitar 3.100 titik panas dengan tingkat kepercayaan menengah serta 406 titik panas dengan tingkat kepercayaan rendah.
Menurut Asrianus Bulo, konsentrasi titik panas terutama tersebar di sejumlah daerah yang berada di bagian selatan dan timur Provinsi Kalimantan Barat.
“Kami laporkan bahwa titik hotspot ini didominasi di wilayah Kabupaten Ketapang, Kabupaten Kubu Raya, dan Kabupaten Kayong Utara di wilayah sektor Selatan. Kemudian di wilayah timur juga Kabupaten Sanggau, Sintang, dan Sambas,” jelasnya.
Rapat tersebut juga membahas perkembangan kondisi cuaca yang dapat memengaruhi strategi penanganan karhutla di wilayah Kalimantan Barat.
Berdasarkan hasil pemantauan, hujan dengan intensitas ringan diperkirakan berpotensi turun terutama di kawasan timur Kalimantan Barat dalam periode 21 hingga 27 Agustus 2026.
Pemerintah sebelumnya telah melaksanakan operasi modifikasi cuaca atau OMC pada 11 hingga 18 Agustus 2026 sebagai salah satu upaya membantu penanganan kebakaran.
Namun, operasi tersebut sempat dihentikan karena kondisi saat itu tidak menunjukkan adanya potensi awan yang memadai untuk mendukung pelaksanaan modifikasi cuaca.
















































Discussion about this post