“Ikut saja seleksi, mau sampai mana Tuhan kasih, pasti bersyukur dan menjalankan tugas yang baik,” ujarnya.
Menurut Atanasius, perjalanan hingga dipercaya mengemban tugas di tingkat nasional tidak terlepas dari doa dan dukungan orang-orang terdekat.
Ia pun menyampaikan rasa terima kasih sekaligus doa kepada kedua orang tua, keluarga, serta masyarakat Nusa Tenggara Timur yang tengah menghadapi musibah.
“Untuk Bapak Mama, saudara semua yang ada di NTT, yang sekarang terjadi bencana. Atanasius dari sini dan teman-teman turut berdoa dan mengucapkan turut berduka cita yang sebesar-besarnya karena terjadi gempa yang sangat besar di sana,” ucapnya dengan haru.
Kebanggaan serupa dirasakan Neeltje Deliana Insjowi Werimon, Paskibraka asal Papua yang dipercaya membawa baki pada prosesi penurunan Bendera Negara Sang Merah Putih.
Bagi Neeltje, pengalaman tersebut terasa sangat istimewa karena keikutsertaannya sebagai Paskibraka nasional merupakan pengalaman pertama dalam perjalanan hidupnya.
“Tentunya saya bahagia sekali dan tidak expect sekali karena ini pertama kali saya mengikuti Paskibra, bisa lulus tingkat nasional, bisa menjadi pembawa baki dan bisa membawa nama baik Provinsi Papua,” kata Neeltje.
Keberhasilan para Paskibraka menjalankan tugas di Istana Merdeka juga tidak terlepas dari peran para pembina dan komandan yang mendampingi mereka selama menjalani rangkaian latihan.
Salah satunya adalah Kapten Pnb Bagus Setianto yang bertugas sebagai Komandan Kompi pada Upacara Penurunan Bendera.
Kapten Bagus mengatakan masa persiapan tidak hanya diisi dengan latihan disiplin dan keseriusan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi pembina untuk membangun kedekatan dengan para anggota Paskibraka.














































Discussion about this post