Dalam kesempatan tersebut, Destry juga menegaskan bahwa Bank Indonesia tetap menempatkan stabilitas nilai tukar rupiah sebagai salah satu prioritas utama kebijakan moneter.
Untuk menjaga kestabilan tersebut, Bank Indonesia akan terus aktif berada di pasar keuangan melalui berbagai instrumen intervensi yang telah disiapkan.
“Kami juga akan terus berada di pasar, baik dengan melalui intervensi di spot, DNDF, ataupun NDF. Dan juga tentunya di satu sisi juga kebijakan kami yang bersifat untuk pro-growth akan kami teruskan melalui kebijakan makroprudensial kami,” kata Destry.
Selain menjaga stabilitas pasar keuangan, Bank Indonesia juga akan melanjutkan berbagai langkah untuk meningkatkan daya tarik investasi dan mendorong masuknya aliran modal asing ke Indonesia.
Salah satu kebijakan yang tetap dipertahankan sesuai hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Juli adalah pemberian berbagai insentif bagi investor, termasuk penurunan biaya lindung nilai (hedging) untuk meningkatkan daya saing pasar keuangan domestik.
Destry menegaskan bahwa dirinya bersama seluruh anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia akan terus menjalankan amanah menjaga stabilitas ekonomi nasional secara konsisten.
“Jadi kami berlima dengan ADG (anggota dewan gubernur) yang lain akan terus komitmen dan terus melanjutkan keberlangsungan tugas kami sesuai dengan amanah yang telah dimandatkan kepada kami di Bank Indonesia,” tuturnya.
Melalui penguatan koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan yang dipimpin langsung Presiden Prabowo, pemerintah berharap stabilitas sektor keuangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global, sehingga mampu memperkuat kepercayaan investor, menjaga ketahanan ekonomi nasional, serta menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.(*)













































Discussion about this post