Saat berbicara dengan Kadek, Presiden memberikan semangat agar terus belajar dengan tekun demi meraih impiannya.
“Belajar yang baik ya, nanti belajar yang baik ya,” pesan Kepala Negara.
Di samping Kadek, sang ibu, Ni Nyoman Martini, tak mampu menyembunyikan rasa harunya karena putrinya memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Sekolah Rakyat.
“Terima kasih Bapak. Terima kasih Pak, anak saya sudah mau masuk sekolah,” tutur Martini dengan haru.
Kisah lain yang menyentuh datang dari Ni Kadek Aryani, remaja berusia 15 tahun yang sempat berhenti sekolah selama dua tahun akibat keterbatasan ekonomi keluarganya.
Putri seorang petani tersebut mengaku sangat ingin kembali mengenyam pendidikan sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan bergabung dengan Sekolah Rakyat.
“Saya kepingin sekali dari dulu sekolah. Saya sudah tamat SD. Dua tahun sudah nggak sekolah. Terus ada pengawasnya ke rumah. Minta, dimintain sekolah. Saya kepingin sekali sekolah itu,” ungkap Ni Kadek Aryani.
Ia pun menyampaikan rasa syukur atas hadirnya program yang memberinya kesempatan untuk kembali mengejar cita-cita.
“Saya berterima kasih sekali sama Pak Prabowo-nya sudah mau bikin sekolah,” ujarnya.
Berbagai kisah yang didengar langsung Presiden Prabowo tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana program Sekolah Rakyat membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.
Melalui program ini, pemerintah berupaya memastikan bahwa setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, mengembangkan potensi diri, dan meraih masa depan yang lebih baik tanpa terhalang oleh kondisi ekonomi keluarga.(*)

















































Discussion about this post