Kawasan tersebut memiliki 206 petak kolam budidaya.
Nilai produksinya diperkirakan mencapai sekitar Rp67,2 miliar dalam satu siklus panen.
Dalam setahun, potensinya bahkan dapat menembus Rp134,4 miliar.
Selain menghasilkan nilai ekonomi tinggi, kawasan budidaya itu juga menyerap ratusan tenaga kerja lokal.
Presiden Prabowo menjelaskan bahwa pemerintah saat ini tengah mengembangkan proyek serupa dalam skala jauh lebih besar di Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Menurut Presiden, proyek di Waingapu dibangun di atas lahan seluas 2.000 hektare.
Sementara itu, BUBK Kebumen dipersiapkan menjadi contoh transformasi tambak tradisional menuju sistem modern berbasis teknologi dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.
“Jadi ini sangat bagus, sangat produktif. Lapangan kerja yang bisa diserap sekarang 650 orang setempat bekerja dan kita sudah membangun di Waingapu 2 ribu hektare,” imbuh Presiden Prabowo.
Pemerintah menilai udang sebagai salah satu komoditas strategis nasional.
Selain mendukung ketahanan pangan, sektor ini juga dianggap memiliki potensi besar untuk memperkuat ekspor perikanan Indonesia di pasar internasional.
Dengan penerapan sistem budidaya modern dan prinsip good aquaculture practices seperti di Kebumen, udang Indonesia dinilai dapat menjadi sumber devisa berkelanjutan bagi negara.
Panen raya tersebut sekaligus menegaskan konsistensi Presiden Prabowo dalam membangun sektor kelautan dan perikanan nasional.
Sebelumnya, Presiden juga pernah meninjau kawasan yang sama ketika masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
















































Discussion about this post