Hal ini terlihat dari kesempatan yang diberikan kepada para pemimpin serikat buruh untuk menyampaikan aspirasi secara langsung di hadapan Presiden.
Ketua Umum Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) Ilhamsyah menilai momen ini sebagai pengalaman baru dalam sejarah gerakan buruh.
“Saya sekian belas kali merayakan May Day, biasa kita berteriak di pinggir-pinggir atau di balik tembok istana atau DPR. Hari ini kami bisa menyampaikan secara langsung kepada Presiden apa yang menjadi aspirasi kami,” ujarnya.
Selain itu, momentum tersebut juga memperlihatkan semakin kuatnya konsolidasi di kalangan buruh Indonesia.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyampaikan optimisme terhadap arah kebijakan pemerintah yang dinilai semakin berpihak pada pekerja.
“Saya hanya ingin menyatakan berterima kasih kepada Presiden karena telah memastikan bahwa kaum buruh Indonesia sekarang bersatu di bawah kepimpinan Bapak Prabowo Subianto. Insyaallah semua cita-cita yang diharapkan bisa terwujud karena persatuan ini,” pungkasnya.
Kehadiran Presiden dalam peringatan Hari Buruh ini menjadi yang kedua kalinya secara berturut-turut sejak masa pemerintahannya dimulai.
Hal tersebut sekaligus mempertegas komitmen berkelanjutan pemerintah dalam menjadikan buruh sebagai mitra strategis pembangunan nasional.
Dari kawasan Monas, pesan yang disampaikan menjadi semakin jelas bahwa negara tidak lagi menjaga jarak, melainkan hadir secara langsung di tengah pekerja.
Buruh kini diposisikan bukan sekadar objek kebijakan, tetapi sebagai bagian penting dalam menentukan arah pembangunan bangsa.(*)




















































Discussion about this post