Presiden mengungkapkan bahwa pada fase awal pemerintahannya ditemukan penyimpangan besar dalam tata kelola bahan bakar dan minyak mentah.
Selain sektor energi, praktik ilegal juga ditemukan hampir di seluruh sektor perekonomian nasional.
“Pada tahun pertama pemerintahan saya, kami telah menyita empat juta hektare perkebunan ilegal dan tambang ilegal. Ini luar biasa. Saya menyebut ini bukan usaha bebas, saya menyebut ini bukan pasar bebas. Saya menyebutnya secara terang-terangan ini ekonomi keserakahan, ekonomi ketamakan, ekonomi dengan praktik yang rakus,” ujar Presiden.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa penegakan hukum dilakukan secara konsisten dan tanpa hiruk-pikuk.
Menurut Kepala Negara, hasil nyata dari kebijakan tersebut mulai terlihat dalam indikator sosial nasional.
Presiden menyampaikan bahwa tingkat kemiskinan ekstrem berhasil ditekan hingga mencapai level terendah sepanjang sejarah Indonesia.
Pemerintah pun menargetkan penghapusan kemiskinan ekstrem secara menyeluruh dalam empat tahun ke depan.
“Tidak ada yang lebih rentan, tidak ada yang lebih memuaskan daripada menurunkan kemiskinan dan memberantas kelaparan” ujar Presiden.
“Itulah misi saya sekarang untuk membuat rakyat Indonesia yang paling miskin, yang paling lemah, tersenyum. Saya pikir sebagian dari itu adalah kita harus memerangi korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan wewenang,” tandasnya.
Pidato Presiden Prabowo di Davos menegaskan pesan strategis kepada dunia bahwa Indonesia terbuka bagi investasi global, namun berdiri tegak dengan satu prinsip yang tidak bisa ditawar, yaitu supremasi hukum dan keadilan bagi seluruh rakyat.(*)


















































Discussion about this post