ISTANAGARUDA.COM – Peter Schiff, salah satu pengkritik Bitcoin paling vokal di dunia, membuat pernyataan yang mengejutkan dengan mengakui bahwa Bitcoin tidak akan kehilangan seluruh nilainya, meski ia tetap menilai aset kripto tersebut tidak layak disejajarkan dengan emas.
Pernyataan itu disampaikan Schiff saat tampil dalam wawancara di FOX Business bersama pendukung Bitcoin ternama, Anthony Pompliano.
Pengakuan bahwa Bitcoin tidak akan jatuh hingga bernilai nol menjadi pernyataan yang berbeda dari sikap Schiff selama bertahun-tahun.
Sebelumnya, ia berulang kali menyebut Bitcoin sebagai gelembung aset yang suatu saat akan pecah.
Meski demikian, perubahan pandangan tersebut tidak membuat Schiff mengubah penilaiannya secara keseluruhan terhadap mata uang kripto terbesar di dunia itu.
Ia tetap beranggapan bahwa Bitcoin merupakan skema Ponzi.
Schiff diketahui telah mengkritik Bitcoin sejak harga aset digital tersebut masih berada di bawah 1.000 dolar AS.
Namun, sejak saat itu Bitcoin terus mencatatkan lonjakan harga hingga sempat menyentuh rekor tertinggi 126.272 dolar AS sebelum kemudian terkoreksi ke kisaran 66.390 dolar AS berdasarkan data TradingView.
Walaupun pertumbuhan nilainya sangat signifikan selama bertahun-tahun, Schiff tetap meyakini bahwa Bitcoin tidak dapat dibandingkan dengan emas.
Menurutnya, emas memiliki nilai guna yang nyata, sedangkan Bitcoin tidak.
Ia mencontohkan bahwa emas masih dapat dimanfaatkan sebagai pemberat kertas, sementara Bitcoin tidak memiliki fungsi fisik serupa.
Schiff juga menegaskan bahwa Bitcoin tidak didukung oleh aset apa pun.
Pandangan tersebut muncul sebagai tanggapan atas pernyataan Anthony Pompliano yang menyebut Bitcoin sebagai aset dengan performa terbaik dalam jangka panjang.
Pompliano mengatakan tingkat pertumbuhan majemuk Bitcoin selama 10 tahun berada di kisaran 50 hingga 60 persen.
Angka tersebut jauh melampaui pertumbuhan emas yang menurutnya hanya sekitar 12 persen.
Karena itu, ia menilai Bitcoin merupakan pilihan investasi yang sangat menarik bagi investor dengan orientasi jangka panjang.
Perdebatan keduanya juga menyentuh isu volatilitas harga Bitcoin.
Schiff menggunakan pergerakan harga emas selama konflik Amerika Serikat dan Iran sebagai contoh.
Menurutnya, kenaikan harga emas sebelum pecahnya perang mencerminkan filosofi pasar “beli saat rumor beredar, jual ketika fakta terjadi.”
Ia menjelaskan bahwa harga emas sempat melonjak hingga mencetak rekor baru karena pelaku pasar mengantisipasi perang.
Setelah konflik benar-benar terjadi, harga emas justru mengalami koreksi sebagai bagian dari penyesuaian pasar yang dinilai wajar.
Sementara itu, Pompliano menilai anggapan bahwa volatilitas merupakan kelemahan Bitcoin adalah kesalahpahaman.
Menurutnya, banyak saham maupun komoditas dengan tingkat keuntungan tertinggi justru memiliki volatilitas yang sangat besar.
Karena itu, naik turunnya harga Bitcoin bukanlah kelemahan, melainkan karakteristik yang mendukung potensi keuntungan dalam jangka panjang.
Ia juga menilai lonjakan maupun penurunan tajam harga Bitcoin merupakan bagian alami dari proses pertumbuhan aset digital tersebut.
Pompliano menambahkan bahwa pendukung emas maupun Bitcoin sebenarnya memiliki pandangan yang sama terhadap kebijakan moneter pemerintah.
Menurutnya, kedua kelompok sama-sama meyakini bahwa pemerintah akan terus mencetak uang dalam jumlah besar.
Perbedaannya terletak pada pilihan aset untuk menjaga nilai kekayaan.
Ia menilai emas dan Bitcoin sama-sama berpotensi mengalami kenaikan harga di masa depan.
Namun, bagi dirinya, Bitcoin menawarkan prospek jangka panjang yang lebih menarik karena merupakan aset digital yang terus berkembang.(*)


















































Discussion about this post