ISTANAGARUDA.COM – Pergerakan harga Bitcoin kembali menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kondisi ekonomi global terhadap pasar kripto, bahkan ketika aliran dana institusional terus menguat.
Harga Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran 67.795 dolar AS.
Angka tersebut turun sekitar 0,46 persen setelah sebelumnya gagal mempertahankan kenaikan di level 74.000 dolar AS pada awal pekan ini.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tekanan makroekonomi kini lebih dominan dibandingkan kabar positif dari dalam industri kripto itu sendiri.
Hubungan antara Bitcoin dan aset berisiko tradisional juga semakin kuat dalam beberapa waktu terakhir.
Grafik harian menunjukkan bahwa Bitcoin sempat bergerak mendekati level 74.000 dolar AS sebelum akhirnya ditolak oleh tekanan jual.
Penolakan tersebut membuat harga kembali turun hingga di bawah 69.000 dolar AS.
Penurunan ini juga menghapus sekitar 110 miliar dolar AS dari kapitalisasi pasar Bitcoin.
Aksi ambil untung oleh investor jangka pendek menjadi salah satu pemicu utama penurunan tersebut.
Indikator Supertrend saat ini berada di sekitar level 61.089 dolar AS.
Level tersebut berfungsi sebagai zona dukungan utama di bawah harga saat ini.
Indikator teknikal Parabolic SAR tercatat berada di kisaran 63.214 dolar AS.
Posisi tersebut memberikan dukungan tambahan yang bergerak secara dinamis di atas indikator Supertrend.
Selain itu terdapat garis tren menurun yang berasal dari puncak harga pada November 2025 di sekitar 130.000 dolar AS.
Garis tren tersebut hingga kini masih membatasi potensi kenaikan harga Bitcoin.
Zona dukungan terdekat berada pada rentang 67.000 hingga 65.000 dolar AS.
Rentang harga antara 60.000 hingga 70.000 dolar AS selama beberapa bulan terakhir menjadi area konsolidasi utama.
Area ini muncul sejak lonjakan harga yang terjadi pada Februari lalu.
Beberapa kali harga mencoba menembus ke atas dari zona tersebut namun belum mampu mempertahankan momentum.
Menariknya, pergerakan pasar terjadi meskipun sejumlah kabar positif datang dari sektor institusional.
Morgan Stanley baru saja menunjuk Bank of New York Mellon sebagai kustodian untuk eksposur ETF Bitcoin spot mereka.
Langkah tersebut memperkuat infrastruktur investasi kripto di kalangan lembaga keuangan Wall Street.
Sementara itu, bursa kripto Kraken memperoleh akses ke sistem pembayaran milik Federal Reserve.
Perkembangan ini membuka jalur integrasi yang lebih luas antara perusahaan kripto dan jaringan perbankan Amerika Serikat.
Perusahaan induk Intercontinental Exchange yang juga mengelola New York Stock Exchange turut berinvestasi pada bursa kripto OKX dengan valuasi sekitar 25 miliar dolar AS.
Di sisi lain, Donald Trump bahkan sempat menyampaikan pandangan bahwa bank tradisional seharusnya mulai bekerja sama dengan industri kripto.
Pada siklus pasar sebelumnya, satu saja kabar seperti itu biasanya mampu mendorong reli besar pada Bitcoin.
Namun situasi kini berubah karena meningkatnya partisipasi investor institusional.
Kehadiran investor besar membuat Bitcoin semakin bergerak searah dengan aset berisiko seperti saham teknologi.
Penurunan harga terbaru juga dipicu oleh penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan konflik dengan Iran.
Situasi tersebut memicu lonjakan harga minyak dan memunculkan kekhawatiran inflasi global.
Kondisi ini juga mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga.
Indeks dolar AS naik sementara pasar saham bergerak melemah.
Pasar kripto kemudian mengikuti pergerakan tersebut bersama dengan saham teknologi.
BlackRock bahkan mulai membatasi penarikan dana dari salah satu dana kredit swasta mereka yang bernilai sekitar 26 miliar dolar AS.
Langkah ini diambil setelah meningkatnya permintaan penarikan dana dari investor.
Situasi serupa sebelumnya juga terjadi pada perusahaan investasi Blue Owl Capital.
Perusahaan tersebut dilaporkan menjual pinjaman senilai 1,4 miliar dolar AS untuk memenuhi permintaan penarikan dana.
Analis dari CryptoQuant bernama Darkfost mencatat aktivitas besar dari investor jangka pendek.
Lebih dari 27.000 BTC senilai sekitar 1,8 miliar dolar AS dipindahkan ke bursa kripto dalam waktu 24 jam.
Pergerakan tersebut terjadi ketika harga menyentuh 74.000 dolar AS.
Angka tersebut menjadi salah satu lonjakan aktivitas penjualan terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Investor jangka pendek biasanya bertindak seperti trader yang mencari keuntungan cepat.
Berbeda dengan investor jangka panjang yang cenderung menahan aset dalam waktu lama.
Saat ini, investor jangka pendek yang masih berada dalam posisi untung adalah mereka yang membeli Bitcoin sekitar satu minggu hingga satu bulan lalu.
Harga pembelian mereka diperkirakan berada di kisaran 68.000 dolar AS.
Sementara itu, pembeli yang masuk pada harga lebih tinggi cenderung memilih mengamankan keuntungan.
Di tengah tekanan harga, aliran dana ke ETF Bitcoin justru kembali menunjukkan tren positif.
Laporan dari Binance Research mencatat ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat menerima arus dana bersih sekitar 787 juta dolar AS dalam satu minggu terakhir.
Ini menjadi arus masuk mingguan pertama sejak pertengahan Januari.
Kembalinya arus dana tersebut menunjukkan bahwa investor institusional mulai kembali masuk ke pasar.
Beberapa dana abadi universitas besar juga mulai mengeksplorasi investasi alternatif.
Instrumen ETF aset digital menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan.
Langkah ini terjadi di tengah valuasi saham tradisional yang dianggap sudah sangat tinggi.
Di sisi lain, tingkat pendanaan Bitcoin saat ini turun ke level terendah sejak 2023.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa posisi leverage di pasar mulai berkurang.
Situasi ini sering dianggap menciptakan fondasi yang lebih sehat untuk reli harga berikutnya.
Arah pergerakan Bitcoin selanjutnya kini sangat bergantung pada kemampuan harga mempertahankan zona dukungan 65.000 hingga 67.000 dolar AS.
Stabilitas kondisi ekonomi global juga akan menjadi faktor penentu utama.
Dalam skenario optimistis, harga Bitcoin dapat bertahan di atas 65.000 dolar AS.
Jika level 74.000 dolar AS berhasil ditembus kembali dengan dukungan arus dana ETF yang kuat, harga berpotensi naik menuju area resistensi 80.000 hingga 82.000 dolar AS.
Namun dalam skenario negatif, penutupan harga di bawah 65.000 dolar AS dapat membuka jalan menuju level Parabolic SAR di 63.214 dolar AS.
Penurunan lebih lanjut bahkan dapat menguji indikator Supertrend di sekitar 61.089 dolar AS.
Apabila zona tersebut juga ditembus, maka peluang penurunan menuju 58.500 dolar AS hingga rata-rata pergerakan 200 minggu menjadi semakin besar.(*)













































Discussion about this post