ISTANAGARUDA.COM – Dominasi Ethereum di ekosistem kripto semakin terlihat jelas setelah data terbaru menunjukkan jaringan ini memiliki jumlah dompet pengguna aktif yang jauh melampaui aset digital besar lainnya.
Data terbaru dari Santiment mengungkap bahwa basis pengguna Ethereum terus berkembang pesat selama satu dekade terakhir.
Jumlah dompet yang tidak kosong di jaringan Ethereum kini tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan sebagian besar aset kripto utama lainnya.
Berdasarkan data tersebut, Ethereum saat ini memiliki sekitar 182,74 juta dompet yang berisi saldo.
Jumlah tersebut menempatkan Ethereum jauh di depan Bitcoin yang memiliki sekitar 58,51 juta dompet.
Sementara itu, Tether tercatat memiliki sekitar 12,96 juta dompet aktif.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa Ethereum memiliki lebih dari 3,12 kali jumlah dompet dibandingkan Bitcoin.
Jika dibandingkan dengan Tether, jumlah dompet Ethereum bahkan mencapai sekitar 14,1 kali lebih banyak.
Skala tersebut mencerminkan luasnya basis pemegang aset serta tingginya aktivitas jaringan yang berkaitan dengan penggunaan aplikasi terdesentralisasi dan kontrak pintar.
Data historis yang ditampilkan dalam grafik juga menggambarkan pertumbuhan alamat dompet berbagai mata uang kripto utama selama sepuluh tahun terakhir.
Dalam grafik tersebut, tanggal 11 Februari 2019 tercatat sebagai titik penting dalam sejarah perkembangan Ethereum.
Pada tanggal itu, Ethereum untuk pertama kalinya melampaui Bitcoin dalam jumlah total pemegang dompet.
Sejak momen tersebut, jumlah alamat di jaringan Ethereum terus meningkat secara konsisten.
Pertumbuhan ini sejalan dengan meluasnya aktivitas di jaringan Ethereum.
Lonjakan tersebut terutama dipicu oleh berkembangnya sektor keuangan terdesentralisasi atau DeFi.
Selain itu, popularitas token non-fungible atau NFT juga ikut mendorong peningkatan penggunaan jaringan Ethereum.
Berbagai layanan berbasis kontrak pintar turut memperluas ekosistem yang berjalan di atas jaringan tersebut.
Berbeda dengan Ethereum, pertumbuhan jumlah dompet Bitcoin terlihat lebih bertahap selama periode yang sama.
Jumlah alamat Bitcoin memang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Namun laju pertumbuhannya terlihat lebih lambat dibandingkan tren kenaikan jangka panjang yang dialami Ethereum.
Sementara itu, Tether yang dikenal luas sebagai penyedia likuiditas utama dalam perdagangan kripto memiliki jumlah alamat yang jauh lebih kecil dibandingkan kedua jaringan tersebut.
Data terpisah dari CryptoQuant juga menunjukkan bagaimana aktivitas jaringan Ethereum berkembang seiring dengan pergerakan harga pasar.
Grafik tersebut membandingkan harga Ethereum dalam dolar Amerika Serikat dengan jumlah alamat dompet aktif harian di jaringan.
Pada awal tahun 2023, Ethereum diperdagangkan di kisaran harga sekitar 1.500 dolar AS.
Pada periode yang sama, jumlah alamat aktif harian biasanya berada di rentang antara 250.000 hingga 350.000.
Sepanjang sebagian besar tahun 2023 dan 2024, aktivitas jaringan cenderung relatif stabil.
Namun sesekali muncul lonjakan penggunaan alamat di jaringan tersebut.
Pergerakan harga mulai menunjukkan volatilitas yang lebih besar sepanjang tahun 2024 hingga 2025.
Dalam periode itu, harga Ethereum sempat melonjak hingga mendekati level 4.500 dolar AS.
Setelah itu, harga kembali turun hingga mendekati kisaran 2.000 dolar AS pada bagian terbaru grafik.
Pada periode yang sama, jumlah alamat aktif harian juga menunjukkan fluktuasi yang lebih tajam.
Beberapa lonjakan aktivitas yang signifikan terlihat terutama menjelang akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026.
Pola ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga biasanya diikuti dengan meningkatnya partisipasi pengguna di jaringan blockchain.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa reli pasar kripto sering kali menarik lebih banyak pengguna serta transaksi ke dalam ekosistem Ethereum.(*)















































Discussion about this post