Nilai tersebut terbagi antara sektor non-keuangan, klaim lintas batas perbankan, serta kredit bank lintas negara.
Dalam konteks itu, estimasi US$100 triliun yang disebut Armstrong dinilai sejumlah analis sebagai target jangka panjang yang masih masuk akal apabila transformasi sistem keuangan benar-benar terjadi.
Para pendukung kripto melihat pernyataan ini sebagai dorongan moral bagi industri.
Hal tersebut tidak terlepas dari posisi strategis Coinbase sebagai salah satu platform infrastruktur blockchain terbesar berbasis di Amerika Serikat.
Perusahaan tersebut juga merupakan salah satu bursa aset digital utama dunia.
Coinbase diketahui berperan sebagai kustodian sekitar 12 persen dari total pasokan Bitcoin yang beredar saat ini.
Jika aliran dana segar sebesar US$100 triliun benar-benar masuk ke ekosistem blockchain, dampaknya terhadap pasar kripto diperkirakan sangat signifikan.
Khususnya terhadap harga Bitcoin yang sempat mengalami tekanan bearish setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$126.000 pada Oktober 2025.
Berdasarkan data TradingView, harga Bitcoin saat artikel ini ditulis berada di kisaran US$66.608.
Lonjakan likuiditas dalam skala besar berpotensi menjadi katalis kuat untuk mengubah arah tren pasar.
Namun seperti halnya setiap proyeksi jangka panjang di sektor keuangan, realisasi angka tersebut akan sangat bergantung pada regulasi, adopsi institusional, serta stabilitas ekosistem blockchain global.(*)















































Discussion about this post