Sebagian korban diberi tahu bahwa mereka harus membayar “biaya” atau “pajak” tambahan untuk membuka kembali akun mereka.
Penyidik menduga taktik ini digunakan untuk menguras dana lebih banyak sebelum komunikasi dihentikan sepenuhnya.
Setelah dana masuk ke dompet yang dikendalikan pelaku, aset kripto tersebut segera dipindahkan melalui banyak alamat guna menyamarkan asal-usul dan kepemilikannya.
Kasus ini bermula ketika Homeland Security Investigations di Raleigh menerima laporan melalui jalur pengaduan publik.
Agen dan analis kemudian melacak pergerakan dana melintasi berbagai dompet blockchain.
Mereka mengidentifikasi sejumlah alamat yang masih menyimpan dana korban dalam jumlah besar.
Otoritas akhirnya menyita lebih dari US$61 juta dalam bentuk USDT dari dompet tersebut.
Dana itu kini menjadi subjek proses penyitaan resmi.
Dalam dua tahun terakhir, lembaga penegak hukum di seluruh Amerika Serikat melaporkan lonjakan tajam pengaduan terkait skema “pig butchering”.
Data 2025 dari Chainalysis menunjukkan pola penipuan ini semakin besar dan merusak.
Rata-rata kerugian per kasus melonjak dari US$782 pada 2024 menjadi US$2.764 pada 2025.
Kenaikan tersebut mencerminkan lonjakan 253 persen hanya dalam satu tahun.
Riset perusahaan itu menempatkan kategori ini sebagai salah satu bentuk penipuan kripto paling menguntungkan dan paling luas.
Pelaku disebut semakin memanfaatkan alat otomatis, platform media sosial, serta jaringan profesional untuk menjaring dan mengeksploitasi korban.(*)
















































Discussion about this post