ISTANAGARUDA.COM – Perdebatan lama tentang Bitcoin maximalism kembali mencuat dengan intensitas baru seiring para pemimpin kripto menilai ulang dampak dominasi korporasi terhadap kebebasan digital.
Di tengah platform digital yang semakin besar, halus, dan terstandardisasi, banyak pengamat menilai orientasi keuntungan mulai menggerus kedaulatan pengguna.
Kondisi ini memicu diskusi baru tentang kedaulatan digital dan kebutuhan untuk melawan fenomena yang disebut sebagian kalangan sebagai kemunduran digital berbasis korporasi.
Kesadaran ini menandai perubahan besar bahwa kekuasaan tidak lagi hanya berada di tangan negara.
Perusahaan teknologi raksasa kini membentuk perhatian publik, perilaku sosial, serta keputusan finansial dalam skala masif.
Komentar terbaru dari Vitalik Buterin ikut memperkuat alasan mengapa para Bitcoin maksimalis generasi awal menolak ICO dan sistem token yang kompleks.
Dalam perspektif tersebut, fokus utama mereka bukan mengejar inovasi finansial cepat, melainkan menjaga kedaulatan pengguna.
Namun, strategi yang ditempuh saat itu lebih banyak membatasi alat dibandingkan memberdayakan individu.
Meski demikian, kekhawatiran dasarnya terbukti relevan, walaupun implementasinya dinilai belum sempurna.
Istilah “corposlop” menggambarkan sistem yang tampak membantu, tetapi perlahan mengikis kendali pengguna.
Platform semacam ini menggabungkan skala korporasi besar, citra merek yang rapi, dan perilaku bisnis yang menekan pengguna demi ekstraksi keuntungan maksimal.
Jejaring sosial, misalnya, mendorong konten sensasional demi meningkatkan interaksi.














































Discussion about this post