Semua ini terjadi serentak di ratusan saham dan berbagai sektor.
Di kripto, arus modal dan rotasi relatif lebih mudah terlihat.
Di saham, skalanya saja sudah cukup membuat kewalahan.
Analisis fundamental, yang paling jarang diandalkan di kripto, justru menjadi tulang punggung pasar saham.
Laba, neraca, proyeksi, dan ekspektasi memainkan peran sentral dalam pembentukan harga.
Namun ini tidak berarti trader kripto pasti gagal di saham.
Kepekaan terhadap perhatian, narasi, dan price action tetap bernilai.
Terutama di sudut pasar saham tertentu di mana sentimen mengalahkan neraca keuangan.
Bedanya, di saham kemampuan tersebut harus ditimbang bersama fundamental dan struktur pasar.
Naluri kripto tidak lagi bisa berdiri sendiri.
Keberhasilan berubah menjadi proses menyeimbangkan banyak faktor.
Narasi harus berdamai dengan realitas laba.
Sinyal teknikal harus selaras dengan kondisi makro.
Momentum sosial harus dihadapkan pada posisi institusional.
Naluri kripto masih membantu, tetapi bukan lagi pemeran tunggal.
Ada satu keunggulan struktural di pasar saham yang sering diabaikan trader kripto.
Keunggulan itu adalah beta.
Di saham-saham besar Amerika Serikat, aliran dana pasif yang stabil menciptakan dorongan naik alami.
Dalam jangka panjang, sekadar bertahan di pasar sering kali sudah membantu kinerja.
Membeli saham acak di indeks S&P 500 jauh lebih pemaaf dibandingkan membeli token kripto menengah secara acak.
Volatilitas yang lebih rendah juga mengurangi tekanan psikologis.
Trader lebih jarang panik dan mengambil keputusan emosional.














































Discussion about this post