ISTANAGARUDA.COM – Pergerakan Bitcoin kembali memasuki fase penentuan yang dapat menentukan arah pasar kripto global dalam jangka pendek hingga menengah.
Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran US$86.414 di tengah perdebatan analis mengenai potensi kelanjutan koreksi harga.
Fokus analisis pasar tertuju pada kondisi likuiditas, siklus pasar, serta tekanan jual yang belum sepenuhnya mereda.
Di kalangan investor sendiri muncul perbedaan pandangan apakah Bitcoin lebih tepat diposisikan sebagai aset berisiko atau penyimpan nilai jangka panjang.
Dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin hanya menguat sekitar 0,1 persen.
Namun secara mingguan, Bitcoin masih melemah 6,7 persen dan terkoreksi 9,6 persen dalam satu bulan terakhir akibat volatilitas yang berkelanjutan.
Level resistensi kuat di sekitar US$94.000 membuat pergerakan harga Bitcoin tertahan dalam rentang yang relatif sempit.
Sejumlah analis menilai kondisi ini mencerminkan fase redistribusi, di mana investor jangka panjang dan institusi menyerap pasokan dari pihak yang menjual.
Meski pergerakan jangka pendek tampak lemah, pola ini dianggap sebagai proses penyerapan likuiditas, bukan sinyal penurunan tajam.
Ekonom Peter Schiff memperingatkan bahwa kenaikan harga emas dan perak bisa menjadi sinyal awal sebelum kejatuhan Bitcoin.
Ia menilai Bitcoin masih berperilaku sebagai aset berisiko yang cenderung turun lebih dulu saat tekanan pasar meningkat.
Menurut Schiff, investor yang mencoba melindungi nilai dari pelemahan dolar berpotensi mengalami kerugian di Bitcoin sebelum dolar benar-benar melemah.
Pandangan tersebut tidak sepenuhnya disepakati oleh analis lain di pasar kripto.
Sebagian analis menilai peran Bitcoin sangat bergantung pada kondisi pasar yang sedang berlangsung.
Dalam guncangan jangka pendek, Bitcoin memang bisa turun saat investor memburu likuiditas tunai.
Namun dalam krisis kepercayaan yang lebih panjang, Bitcoin berpotensi melepaskan diri dari aset berisiko tradisional dan berfungsi sebagai penyimpan nilai.
Mereka juga menekankan bahwa emas melindungi kekayaan di dalam sistem keuangan, sementara Bitcoin menawarkan mobilitas dan kemandirian di luar sistem tersebut.
Dari sisi tekanan jual, pasar Bitcoin masih dibayangi aksi distribusi yang berkelanjutan.
Sejumlah laporan menyebutkan pemerintah daerah di Tiongkok menjual Bitcoin hasil sitaan kasus kriminal, termasuk yang terkait dengan skema PlusToken tahun 2019.
Kepemilikan tersebut diyakini jauh lebih kecil dari total awal 194.000 BTC dan umumnya dilepas melalui pasar luar negeri atau transaksi over-the-counter.
Di sisi lain, minat beli dari institusi, perbankan, ETF, dan investor besar terus berlangsung secara konsisten.
Meski demikian, arus dana keluar dari ETF Bitcoin masih cukup besar.
Pada hari Senin tercatat dana keluar sebesar US$358 juta, disusul US$277,2 juta pada hari berikutnya.
Analis menilai kondisi pasar saat ini relatif seimbang antara tekanan jual dan akumulasi.
Penjual didorong oleh pola siklus pasar sebelumnya, sementara pembeli berfokus pada fundamental jangka panjang.
Analis PlanB merangkum situasi tersebut dengan menyebut sekitar separuh pasar sedang menjual dan separuh lainnya melakukan akumulasi.
Di saat yang sama, validitas siklus Bitcoin empat tahunan mulai dipertanyakan.
Analis seperti Sykodelic menilai pergerakan Bitcoin kini lebih dipengaruhi oleh likuiditas dan kondisi ekonomi global dibandingkan pola halving yang kaku.
Pada siklus kali ini, Bitcoin tidak mencetak lonjakan harga ekstrem dan tidak terlihat puncak pasar yang jelas.
Adopsi institusional juga disebut mengubah struktur pasar secara signifikan.
Chief Investment Officer Bitwise, Matt Hougan, memperkirakan Bitcoin berpotensi mencetak rekor harga baru pada tahun 2026.
Ia mengaitkan proyeksi tersebut dengan melemahnya dampak halving, potensi penurunan suku bunga, serta meningkatnya keterlibatan institusi.
Meski prospek jangka panjang dinilai positif, risiko jangka pendek masih membayangi pasar.
Analis Michael van de Poppe menegaskan Bitcoin harus menembus level US$88.000 untuk mengonfirmasi momentum kenaikan.
Jika gagal, harga Bitcoin berpotensi kembali menguji area US$83.000 hingga US$80.000 seiring tekanan makroekonomi yang masih berlanjut.














































Discussion about this post