Abu Nawas melepas pakaian dan langsung ikut berendam. Abu Nawas berharap-harap cemas. Kira-kira permainan apa lagi yang akan dihadapi.
Mungkin permainan kali ini lebih berat karena Baginda Raja tidak memberi waktu untuk berpikir?
Tiba-tiba Baginda Raja membuyarkan lamunan Abu Nawas. Beliau berkata kepada Abunawas “Hai Abu Nawas, aku mengundangmu mandi bersama karena ingin mengajak engkau ikut dalam permainan kami,” kata Baginda Raja.
“Permainan apakah itu Paduka yang Mulia?” tanya Abu Nawas belum mengerti.
“Kita sekali-kali melakukan sesuatu yang secara alami hanya bisa dilakukan oleh binatang. Sebagai manusia kita harus bisa melakukannya dengan cara kita masing-masing,” kata Baginda sambil tersenyum.
“Hamba belum mengerti Baginda yang mulia,” kata Abu Nawas penasaran.
Masing-masing dari kita harus bisa bertelur seperti ayam dan barangsiapa yang tidak bisa bertelur maka ia harus dihukum!” kata Baginda.
Abu Nawas tidak berkata apa-apa. Wajahnya nampak murung. ia semakin yakin dirinya tak akan bisa lolos dari lubang jebakan Baginda dengan mudah. Melihat wajah Abu Nawas murung, wajah Baginda Raja semakin berseri-seri.
“Nah sekarang apalagi yang kita tunggu. Kita menyelam lalu naik ke atas sambil menunjukkan telur kita masing-masing,” titah Baginda Raja.
Baginda Raja dan para menteri mulai menyelam, kemudian naik ke atas satu persatu dengan membawa sebutir telur ayam.
Abu Nawas masih di dalam kolam. Ia tentu saja tidak sempat mempersiapkan telur karena ia memang tidak tahu kalau ia diharuskan bertelur seperti ayam.
















































Discussion about this post