“Nah, saya setuju ke depannya itu agar mengundang investror. IKN harus diteruskan tetapi pendanaannya harus sesuai dengan tujuan semula, bahwa itu sebenarnya mengundang investor. Tapi sekarang ini, yang sudah jadi, itu semuanya dari APBN. Sehingga diperlukan langka-langka agar warisan baik dari Presiden Jokowi ini bisa kita lanjutkan,” imbuhnya.
Selanjutnya, Cak Imin diberi kesempatan untuk menanggapi jawaban Gibran tadi.
Cak Imin mengawali tanggapannya dengan pernyataan bahwa yang terpenting bukan soal infrastruktur dulu atau SDM dulu. Tetapi yang paling penting adalah kemampuan untuk membaca skala prioritas.
Cak Imim menyindir, kalau saja sebagian dari anggaran IKN yang hampir Rp 500 triliun itu dipakai untuk membangun jalan, kota-kota dan sekolah=sekolah di Kalimantan, maka semuanya akan beres.
“Seluruh projek-projek besar yang ambisius, ini IKN sebagai salah satu contoh saja, itu kalau hanya mengandalkan APBN, hampir Rp 500 triliun. Padahal 1 persen dari Rp 400 sekian triliun itu, untuk bangun jalan seluruh kalimantan, beres. Membangun seluruh kota-kota di kalimantan, beres. Dan yang paling penting, infrastruktur untuk SDM, 3 persen saja dari seluruh anggaran IKN itu bisa membangun sekolah dengan baik di seluruh Kalimantan! Itu contoh kemampuan mengambil skala prioritas,” sindir Cak Imin cukup menohok.
Atas tanggapan kedua cawapres itu, Gibran memilih menanggapi Cak Imin terlebih dahulu.
“Saya ijin menanggapi Gus Muhaimin dulu. Saya ingat sekali, Gus Muhaimin dulu sempat ikut meresmikan dan potong tumpeng di IKN. Ini gimana ini? Nggak konsisten. Dulu dukung sekarang nggak dukung karena menjadi wakilnya Pak Anies yang mengusung tema perubahan,” kata Gibran balik menyindir.

















































Discussion about this post