Adapun menu yang disediakan selama bulan suci ini dirancang agar lebih tahan lama, termasuk susu, telur rebus, kurma, kue kering, dan buah.
Selain itu, pilihan makanan seperti bubur kacang hijau atau kolak juga akan disediakan secara berkala.
“Mungkin juga sesekali ada bubur kacang hijau atau kolak. Yang jelas sumber komposisi gizinya tetap, di mana di situ ada protein, ada karbohidrat, dan ada serat,” lanjutnya.
Edukasi Ramah Lingkungan dalam Program MBG
Dalam aspek pengemasan, pemerintah menerapkan sistem ramah lingkungan dengan mewajibkan anak-anak menukar kemasan makanan yang telah digunakan sebelumnya.
Langkah ini bertujuan untuk menekan jumlah sampah sekaligus mendidik anak-anak agar lebih disiplin dalam menjaga kebersihan lingkungan.
“Jadi ada uji coba di Sukabumi, di mana anak-anak diberi makanan yang dibawa dengan kantong ke rumah, kemudian besoknya kantongnya harus dibawa kembali, ditukar dengan kantongnya isi, sehingga tidak menimbulkan sampah, dan melatih juga anak-anak supaya disiplin bahwa kantong itu bisa ditukar setiap hari,” terangnya.
Evaluasi Rutin hingga Menjelang Idul Fitri
Program MBG ini akan terus dijalankan hingga mendekati Idul Fitri dengan evaluasi berkala untuk memastikan efektivitasnya.
Setelah satu minggu penerapan, pemerintah akan melakukan peninjauan guna menentukan metode distribusi yang paling sesuai bagi anak-anak di seluruh Indonesia.
“Memang ada usulan kalau yang di daerah non-muslim tetap masak seperti biasa, tapi kan tetap ada yang puasa ya, jadi kita akan samakan. Nanti kita akan evaluasi setelah berjalan satu minggu apakah di daerah yang non-muslim sama seperti yang pada umumnya, atau diberikan treatment khusus,” tandasnya.












































Discussion about this post