Kirillov sendiri merupakan salah satu figur yang paling vokal menyebarkan tuduhan ini. Sejak menjabat pada 2017, ia kerap menggelar konferensi pers menuduh Ukraina merencanakan serangan dengan zat berbahaya dan radioaktif – tuduhan yang ditolak oleh Ukraina dan negara-negara Barat sebagai propaganda.
Menurut laporan media Rusia, bom dalam serangan Selasa tersebut dipicu dari jarak jauh. Foto-foto di lokasi kejadian memperlihatkan kaca-kaca jendela pecah dan dinding bata yang hangus terbakar akibat ledakan.
SBU juga merilis video yang diklaim sebagai rekaman serangan tersebut. Dalam video itu, dua pria terlihat keluar dari gedung sesaat sebelum ledakan besar terjadi.
Badan Investigasi Utama Rusia menyatakan bahwa mereka sedang menyelidiki kematian Kirillov sebagai kasus terorisme. Sementara itu, pejabat Moskow berjanji akan memberikan balasan tegas terhadap Ukraina.
Dmitry Medvedev, wakil kepala Dewan Keamanan Rusia yang dipimpin oleh Presiden Vladimir Putin, menuding serangan ini sebagai upaya Kyiv untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan militernya.
“Kepemimpinan politik dan militer senior Ukraina akan menghadapi balasan yang tak terelakkan,” tegas Medvedev.
Beberapa komentator militer Rusia dan blogger garis keras bahkan menyebut, tanpa bukti, bahwa Amerika Serikat mungkin terlibat dalam pembunuhan Kirillov.
Namun, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller, membantahnya. “Amerika Serikat tidak mengetahui atau terlibat dalam serangan ini,” ujarnya.
Di sisi lain, Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson, yang sedang menghadiri pertemuan puncak di Estonia, menyatakan bahwa ia belum mengetahui detail serangan itu. Namun, ia menambahkan, “Akan sangat bisa dimengerti jika Ukraina melakukan segala upaya untuk membalas serangan.”

















































Discussion about this post