Dalam amanatnya, Kepala Negara juga menekankan bahwa kekuatan militer tidak semata-mata ditentukan oleh kecanggihan senjata, kelengkapan peralatan, atau besarnya anggaran pertahanan.
Menurut Prabowo, sejarah dan dinamika geopolitik menunjukkan bahwa semangat juang serta keberanian untuk berkorban merupakan faktor penting yang menentukan ketangguhan sebuah angkatan bersenjata.
“Tidak hanya senjata dan peralatan yang menentukan tentara itu tangguh atau tidak. Tidak hanya alat, tidak hanya anggaran, yang paling penting adalah semangat, jiwa rela berkorban,” kata Presiden.
Pesan tersebut kemudian ditutup dengan penegasan bahwa kekuatan TNI pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari ketangguhan bangsa dan rakyat yang dilindunginya.
“Terus menjadi tentara rakyat. Tentara yang kuat adalah tentara yang dekat dengan rakyat,” demikian penekanan Presiden dalam amanatnya.
Upacara kemudian ditutup dengan Andhika Bhayangkari, laporan komandan upacara, dan penghormatan kebesaran kepada inspektur upacara.
Presiden Prabowo bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming selanjutnya meninggalkan lokasi setelah seluruh rangkaian peringatan HUT ke-81 TNI selesai.
Sejumlah tokoh nasional turut hadir, di antaranya Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Sinta Nuriyah Wahid, Tuti Try Soetrisno, Soraya Hamzah Haz, para pimpinan lembaga negara, menteri dan wakil menteri Kabinet Merah Putih, serta duta besar dan atase pertahanan negara sahabat.(*)


















































Discussion about this post