Xiaomi memilih bentuk humanoid berukuran penuh dengan tinggi sekitar 1,7 meter.
Desain tersebut memungkinkan robot memiliki bentuk tubuh yang lebih menyerupai manusia sehingga secara teori dapat beradaptasi dengan lingkungan yang sebelumnya dirancang untuk manusia.
Namun, Xiaomi tidak ingin mengembangkan robot humanoid sebagai produk yang berdiri sendiri di luar ekosistem perusahaan.
Lu mengungkapkan bahwa robot tersebut akan diarahkan agar terintegrasi dengan visi besar Xiaomi mengenai ekosistem “manusia, mobil, dan rumah”.
Konsep tersebut membuka kemungkinan pemanfaatan robot dalam berbagai lingkungan, mulai dari fasilitas manufaktur cerdas, sistem transportasi pintar hingga lingkungan rumah tangga.
Sebelum diperlihatkan kepada masyarakat luas, Xiaomi sebenarnya telah melakukan pengujian robot dalam kondisi kerja nyata.
Pada Juli lalu, pendiri sekaligus CEO Xiaomi Lei Jun membagikan hasil pengujian robot yang telah menjalani “magang” selama empat bulan di sebuah pabrik otomotif.
Salah satu pengujian dilakukan pada stasiun pemasangan mur self-tapping yang membutuhkan robot mengerjakan tugas dari dua sisi.
Dalam pengujian tersebut, tingkat keberhasilan robot meningkat dari 90,2 persen menjadi 98 persen.
Setelah menunjukkan peningkatan performa, robot Xiaomi kemudian diberikan tugas lain di area final assembly workshop.
Pada tahap tersebut, robot mencapai tingkat keberhasilan sekitar 90 persen ketika menjalankan pekerjaan seperti melipat penutup samping konsol tengah dan menangani kotak material.















































Discussion about this post