Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an tingkat kenegaraan merupakan pengingat bagi bangsa Indonesia untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan publik.
“Peringatan Nuzulul Qur’an yang diselenggarakan pada malam hari ini, merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan publik, sehingga ajaran-ajarannya tidak hanya dibaca dan dihayati, dihafal, tapi juga betul-betul diamalkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Nasaruddin.
Sementara itu ulama dan cendekiawan Muslim Muhammad Quraish Shihab menyampaikan tausiyah mengenai hikmah turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Ia menekankan bahwa perbedaan dalam masyarakat merupakan keniscayaan yang tidak seharusnya menimbulkan konflik.
“Allah ingin mengajarkan kita bahwa perbedaan itu adalah suatu keniscayaan. Tetapi perbedaan tidak perlu menimbulkan pertentangan. Kalau kemarin kita berbeda dalam berpuasa, terbuka kemungkinan yang tidak kecil kita pun akan berbeda dalam berlebaran. Tapi perbedaan sama sekali tidak menimbulkan pertentangan. Perbedaan yang dikehendaki Al-Quran itu adalah sama dengan falsafah bangsa kita, Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Quraish Shihab.
Melalui peringatan ini, pemerintah berharap nilai spiritual Ramadan semakin memperkuat persaudaraan nasional dan memperteguh komitmen bersama untuk membangun Indonesia yang damai, adil, dan beradab.
Semangat Al-Qur’an diharapkan menjadi landasan moral bagi seluruh elemen bangsa dalam menjaga persatuan serta mewujudkan cita-cita Indonesia yang makmur dan penuh kebajikan.(*)

















































Discussion about this post