Dampaknya tidak hanya terasa pada perbaikan asupan gizi, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja baru di tingkat akar rumput.
Setiap satu dapur SPPG menyerap sekitar 50 tenaga kerja yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan tetap.
“Mereka lihat gini rasionya berkurang. Lapangan kerja dibentuk satu dapur, satu SPPG, 50 orang bekerja yang tadinya tidak punya penghasilan, mereka bekerja, mereka bisa bantu suami, mereka bisa membantu anaknya,” jelas Presiden.
Dari sisi dunia usaha, Presiden menerima laporan bahwa konsumsi rumah tangga menunjukkan tren peningkatan seiring berjalannya program MBG.
Para petani kecil pun merasakan dampak langsung karena hasil panen mereka terserap secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan dapur-dapur layanan gizi di berbagai daerah.
Presiden menegaskan bahwa kebijakan ini bukan eksperimen tanpa preseden karena banyak negara maju dan demokratis telah lebih dahulu menjalankan program serupa.
“Program semacam ini sesungguhnya bukan pertama kali dilaksanakan di Indonesia. Sudah puluhan negara lain melaksanakan, puluhan negara lain. Dan negara-negara yang maju, negara-negara yang demokratis, pasti punya program makan bergizi gratis untuk rakyatnya,” ujar Presiden.
Ia mengakui bahwa urgensi program ini mungkin tidak sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat yang berkecukupan, namun sangat krusial bagi kelompok rentan.
Presiden juga tidak menampik bahwa sejak awal peluncurannya, MBG menghadapi kritik dan keraguan.
“Tapi saya yakin, waktu itu saya berada di atas jalan yang benar. Saya yakin bahwa tujuan kita benar dan baik,” ungkap Presiden.



















































Discussion about this post