Presiden juga memaparkan pengalamannya mengikuti berbagai forum internasional yang berlangsung di Eropa.
Salah satu agenda yang dihadiri Presiden adalah pertemuan World Economic Forum di Davos, Swiss.
Ia menyampaikan bahwa kekhawatiran terhadap potensi konflik global berskala besar menjadi perhatian serius para pemimpin dunia.
“Hampir semua pemimpin dunia merisaukan kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga,” ungkap Presiden.
Presiden memperingatkan bahwa perang global yang melibatkan senjata nuklir dapat membawa dampak destruktif jangka panjang.
Ia menjelaskan bahwa ancaman tersebut tidak hanya berupa kehancuran fisik tetapi juga kerusakan lingkungan global.
Presiden menyebut potensi kontaminasi radiasi dapat mengganggu sektor pangan dan perikanan.
Ia juga menyoroti ancaman perubahan iklim ekstrem akibat fenomena nuclear winter yang dapat berlangsung puluhan tahun.
Dalam menghadapi situasi tersebut, Presiden menegaskan komitmen Indonesia untuk tetap menjalankan politik luar negeri bebas aktif.
Presiden menegaskan bahwa Indonesia tidak akan terlibat dalam aliansi militer global.
Ia menyatakan bahwa Indonesia akan terus membangun hubungan persahabatan dengan semua negara.
“Filosofi luar negeri saya adalah seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak,” tegas Presiden.
Presiden juga mengingatkan bahwa kebijakan nonblok menuntut kekuatan nasional yang mandiri.
Ia menegaskan bahwa Indonesia harus mampu bertahan tanpa ketergantungan pada kekuatan militer asing.
Presiden mengutip pesan para pendiri bangsa sebagai landasan moral dan strategi nasional.




















































Discussion about this post