Ia menilai bahwa kemampuan negara menjamin ketersediaan pangan merupakan ukuran nyata kemerdekaan dan kedaulatan.
“Bangsa Indonesia harus mandiri, bangsa Indonesia harus berdiri di atas kaki kita sendiri, dan di situ elemen utamanya adalah swasembada pangan. Tidak ada bangsa yang merdeka, bila mana bangsa itu tidak bisa menjamin makan untuk rakyatnya,” tegas Presiden.
Makna swasembada pangan, lanjut Presiden, tidak terbatas hanya pada ketersediaan beras.
Kebutuhan karbohidrat dan protein juga harus tercukupi secara berkelanjutan dari produksi dalam negeri.
Selain pangan, sektor energi juga dipandang sebagai pilar utama kemakmuran nasional.
Presiden menilai ketergantungan energi kepada negara lain akan menghambat pertumbuhan dan memperpanjang kemiskinan.
“Kalau kita tergantung dengan bangsa lain untuk energi kita, tidak mungkin kita makmur, tidak mungkin kita lepas dari kemiskinan,” ujar Presiden.
Kondisi geopolitik global saat ini semakin menguatkan relevansi strategi kemandirian tersebut.
Presiden menyinggung konflik di beberapa negara pemasok pangan dunia yang berpotensi mengganggu rantai pasok internasional.
Ia juga mengingatkan pengalaman Indonesia ketika pandemi Covid-19 melanda dunia.
“Kita juga pernah mengalami Covid. Semua negara pengekspor makanan menutup. Kita tidak bisa impor walaupun kita punya uang,” ungkap Presiden.
Dalam kesempatan itu, Presiden menyampaikan rasa syukur atas percepatan pencapaian swasembada beras nasional.
Target awal yang semula dirancang empat tahun berhasil dilampaui lebih cepat dari jadwal.













































Discussion about this post