“Kita harus terus bersuara satu untuk menegakkan UNCLOS 1982; dan untuk mengupayakan penyelesaian awal kode etik yang efektif dan substantif tahun depan,” tuturnya.
Selanjutnya, Presiden Prabowo menegaskan komitmen Indonesia untuk mendorong langkah-langkah konkret ASEAN dalam mengatasi krisis di kawasan, termasuk situasi yang masih berlangsung di Myanmar.
“Krisis di sekitar kita terus menguji tekad kita, di kawasan kita, dan di antara sahabat-sahabat kita. Situasi di Myanmar masih menjadi keprihatinan yang mendalam. Kami mencermati perkembangan terkini, termasuk rencana penyelenggaraan pemilu pada Desember 2025,” ucap Presiden Prabowo.
Ia menekankan pentingnya agar ASEAN tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip demokrasi dan transparansi dalam mendukung proses politik di Myanmar, dengan konsensus lima poin sebagai acuan utama.
“Kita harus terus menyerukan gencatan senjata untuk menciptakan ruang yang diperlukan bagi dialog yang bermakna. Indonesia siap mendukung Ketua ASEAN dalam melibatkan semua pihak menuju proses yang benar-benar inklusif,” kata Presiden.
Selain isu Myanmar, Presiden Prabowo juga menyoroti meningkatnya ketegangan antara Thailand dan Kamboja yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.
“Saya mengapresiasi kepemimpinan Perdana Menteri Anwar dalam memfasilitasi dialog dan gencatan senjata. Kami mendesak kedua belah pihak untuk menyelesaikan perbedaan mereka dengan semangat ASEAN, sebagai satu keluarga,” ujarnya.
Menutup pernyataannya, Presiden Prabowo kembali menegaskan bahwa persatuan ASEAN bukanlah slogan diplomatik, melainkan jalan menuju masa depan yang damai, berdaulat, dan sejahtera bagi seluruh rakyat di kawasan.














































Discussion about this post