Dalam pertemuan yang berlangsung dalam format working lunch itu, kedua kepala negara membahas peningkatan kerja sama ekonomi, termasuk peluang menuju Preferential Trade Agreement atau perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Afrika Selatan.
“Kami ingin mengambil langkah-langkah untuk mungkin memiliki perjanjian perdagangan preferensial atau perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif di masa ketidakpastian ekonomi internasional ini,” ucap Presiden Prabowo.
Selain bidang ekonomi, kedua negara juga berkomitmen mempercepat implementasi kerja sama pertahanan yang telah disepakati pada 2023, serta memperluas kolaborasi di sektor pertanian, energi, pendidikan, dan ilmu pengetahuan.
“Kami akan mengirimkan (delegasi) Indonesia, seperti yang diminta oleh Presiden Afrika Selatan, kemungkinan jika kami dapat mengirimkan tim teknis, delegasi teknis untuk membahas program-program konkret di bidang-bidang utama yang dapat maju dengan pesat,” tutur Presiden Prabowo.
Sementara itu, Presiden Ramaphosa menegaskan bahwa Indonesia telah lama menjadi sahabat sejati bagi rakyat Afrika Selatan, bahkan sejak masa perjuangan melawan apartheid.
“Selama bertahun-tahun, rakyat Afrika Selatan menemukan sekutu setia di Indonesia, yang secara konsisten mendukung perjuangan melawan apartheid. Kami akan selalu berterima kasih atas dukungan dan solidaritas rakyat Indonesia,” ujar Presiden Ramaphosa.
Ia juga mengingatkan kembali bahwa semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung telah menjadi inspirasi bagi gerakan pembebasan Afrika Selatan dan dasar kuat hubungan kedua negara hingga kini.
















































Discussion about this post