Ia menambahkan bahwa tatanan dunia yang adil tidak boleh menjadi hak eksklusif segelintir bangsa, melainkan milik seluruh umat manusia.
“Dengan PBB yang kuat, kita bisa membangun dunia di mana yang lemah tidak menderita karena keterpaksaan, tetapi hidup dalam keadilan yang layak mereka dapatkan. Mari kita lanjutkan perjalanan besar umat manusia menuju cita-cita, aspirasi tanpa pamrih yang melahirkan PBB. Mari kita gunakan ilmu pengetahuan untuk mengangkat, bukan untuk menghancurkan,” imbuhnya.
Pidato Prabowo semakin menegaskan bahwa Indonesia bukan hanya hadir sebagai penonton, tetapi siap berperan aktif dalam menjaga stabilitas global.
Turut mendampingi Presiden dalam kesempatan ini adalah Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Luar Negeri Sugiono, Menteri HAM Natalius Pigai, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, serta Wakil Tetap RI untuk PBB di New York Umar Hadi.
Pidato bersejarah ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo menempatkan dirinya kembali sebagai pemain utama dalam panggung diplomasi dunia.(*)














































Discussion about this post