Ia menekankan bahwa solusi dua negara tetap menjadi jalan satu-satunya yang realistis dan adil.
“Oleh karena itu, Indonesia kembali menegaskan komitmennya terhadap solusi dua negara dalam masalah Palestina. Hanya solusi dua negara inilah yang akan membawa perdamaian,” tegasnya.
Presiden juga menambahkan bahwa Indonesia siap mengakui Israel setelah Palestina diakui kemerdekaannya secara penuh.
“Kita harus menjamin kenegaraan Palestina, tetapi Indonesia juga menyatakan bahwa setelah Israel mengakui kemerdekaan dan kenegaraan Palestina, Indonesia akan segera mengakui Negara Israel dan kami akan mendukung semua jaminan keamanan Israel,” lanjutnya.
Pidato tersebut juga menyinggung pentingnya Deklarasi New York sebagai landasan perdamaian yang adil dan berkelanjutan.
Prabowo memuji langkah sejumlah negara besar yang telah lebih dulu mengakui Palestina, seperti Prancis, Kanada, Australia, Inggris, dan Portugal.
“Pengakuan Negara Palestina adalah langkah yang tepat di sisi sejarah yang benar. Bagi mereka yang belum bertindak, kami katakan sejarah tidak berhenti,” tuturnya.
Prabowo tampil sebagai pembicara kelima dari total 33 negara dan organisasi internasional yang diundang menyampaikan pandangan, setelah Yordania, Turkiye, Brasil, dan Portugal.
Pembatasan jumlah pembicara hingga 33 pihak menunjukkan prioritas bagi negara-negara core group yang memiliki peran penting dalam mengawal implementasi solusi dua negara, termasuk Indonesia.
Selain menekankan diplomasi, Prabowo juga menyuarakan aksi nyata untuk mengakhiri penderitaan di Gaza.














































Discussion about this post