Sehari sebelumnya, perwakilan Rusia dan Ukraina menggelar pertemuan di Turki dengan tujuan menciptakan gencatan senjata sementara.
Namun, pembicaraan tersebut hanya berlangsung kurang dari dua jam dan berakhir tanpa kesepakatan berarti.
Pertemuan itu menjadi pertemuan langsung pertama antara kedua pihak sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina yang dimulai pada Februari 2022.
Meski terdapat kesepakatan awal soal pertukaran tahanan dalam jumlah besar, kedua belah pihak masih berselisih jauh mengenai syarat-syarat utama penghentian perang.
Salah satu tuntutan utama dari pihak Ukraina, yang juga didukung oleh sekutu Baratnya, adalah adanya gencatan senjata sementara sebagai langkah awal menuju penyelesaian damai.
Namun Kremlin hingga kini tetap menolak gagasan gencatan senjata tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa dirinya telah berdiskusi soal perkembangan perundingan itu dengan Presiden AS Donald Trump serta para pemimpin Prancis, Jerman, Inggris, dan Polandia.
Dalam unggahan di platform X dari pertemuan para pemimpin Eropa di Albania, Zelenskyy menyerukan “sanksi tegas” terhadap Moskow jika Rusia tetap menolak “gencatan senjata penuh dan tanpa syarat serta penghentian pembunuhan.”
Dalam pertemuan yang berlangsung di Istanbul, kedua pihak sepakat untuk saling menukar 1.000 tahanan perang — yang akan menjadi pertukaran terbesar sejak perang dimulai.
Mereka juga membahas kemungkinan gencatan senjata serta rencana pertemuan antara kepala negara masing-masing, menurut pernyataan Menteri Pertahanan Ukraina sekaligus kepala delegasi, Rustem Umerov.

















































Discussion about this post