Ustaz Adi Hidayat, selaku penggagas awal Gerina, dalam sesi terpisah menyampaikan bahwa keberhasilan program ini hanya mungkin terwujud bila ada sinergi antara rakyat dan pemerintah. Menurutnya, ketahanan pangan adalah tanggung jawab kolektif.
“Oleh karena itu, ketika pemerintah sudah memiliki programnya, sudah memiliki rancang bangun dan visinya, maka dari rakyat mempersamai sehingga terjadi akselerasi dan membangun kesadaran,” ucap Ustaz Adi Hidayat.
Dua program inovatif dalam Gerina turut diperkenalkan kepada Presiden pada kesempatan ini. Pertama, Si Opung, yaitu solusi menanam padi di atas air menggunakan kolam.
Program ini menyasar masyarakat yang tidak memiliki lahan darat namun tetap ingin berkontribusi pada produksi pangan.
“Jadi yang tidak punya tanaman darat, dia punya kolam atau dia ingin bikin di samping rumahnya, itu bisa dirakitkan dengan biaya yang jangkau, kemudian bisa diolah dan bisa panen,” lanjutnya.
Inovasi kedua bernama Si Cepot, yang menawarkan metode menanam cepat panen dalam pot. Konsep ini telah melalui riset mendalam, tidak hanya untuk padi, tetapi juga untuk tanaman seperti cabai dan kentang.
“Dari tanaman sawah, kita riset dengan pot. Potnya kemudian kita riset bentuknya, gramasinya, volumenya. Dan kalau kita bisa susun satu keluarga, bisa simulasi 5 orang, kebutuhan makannya x sekian, itu dengan tanam pot itu 3x musim, dia bisa sampai nabung 100-300 ribu dibandingkan beli secara biasa,” jelas Ustaz Adi Hidayat.
Presiden pun turut meninjau langsung lokasi riset dan teknik tanam inovatif tersebut. Dalam kunjungan itu, ia menyaksikan langsung berbagai pendekatan baru yang bisa direplikasi secara nasional.













































Discussion about this post