ISTANAGARUDA.COM – Vitalik Buterin melontarkan gagasan segar tentang masa depan creator coin dengan pendekatan yang menitikberatkan pada kualitas konten dibanding sekadar kuantitas produksi digital.
Pendiri bersama Ethereum tersebut mengusulkan model baru dalam menyusun ekosistem creator coin.
Ia menegaskan bahwa fokus pengembangan ke depan bukan lagi memperbanyak konten, melainkan meningkatkan mutu konten yang dihasilkan.
Buterin menjelaskan bahwa industri kripto telah menghabiskan hampir satu dekade untuk mencoba memberi kompensasi kepada kreator melalui sistem token.
Sejumlah platform seperti Bihu dan Steemit menjadi pelopor dalam konsep tersebut.
Gelombang berikutnya muncul melalui BitClout yang sempat melejit pada 2021.
Kemudian hadir pula Zora yang mencoba meneruskan inovasi tersebut.
Namun, menurut Buterin, seluruh platform itu belum berhasil menyelesaikan persoalan utama dalam ekosistem kreator digital.
Saat ini, pasar konten digital telah mengalami kelebihan pasokan.
Teknologi kecerdasan buatan mampu menghasilkan konten dalam jumlah sangat besar dengan biaya yang sangat rendah.
Kondisi tersebut membuat masalah utama bukan lagi ketersediaan konten, melainkan kualitas konten.
Ia menilai sistem yang memberikan penghargaan berdasarkan volume justru meningkatkan kebisingan informasi dan menurunkan nilai sebenarnya dari konten.
Mengapa Creator Coin Saat Ini Tidak Efektif
Buterin menambahkan bahwa sebagian besar platform creator coin menempatkan popularitas sosial sebagai faktor utama peringkat, bukan kualitas karya.
Di platform seperti BitClout dan Zora, token terbesar biasanya dimiliki oleh selebritas atau figur publik yang sudah memiliki visibilitas tinggi.
Kreator baru jarang mampu menembus dominasi tersebut hanya melalui kualitas karya mereka.
Ia juga menyoroti bahwa spekulasi kini menjadi penggerak utama harga token.
Nilai token sering bergerak berdasarkan siklus perhatian publik, bukan berdasarkan kualitas konten yang dihasilkan.
Situasi ini menurutnya telah melemahkan kepercayaan jangka panjang dan menurunkan loyalitas pengguna.
Fenomena serupa juga terjadi pada Friend.tech.
Aplikasi SocialFi yang berjalan di jaringan Base tersebut memungkinkan pengguna mengakses obrolan privat melalui kunci digital yang dapat diperdagangkan.
Walaupun harga aset sempat melonjak karena hype pasar, tingkat penggunaan platform justru menurun dengan cepat.
Platform tersebut akhirnya ditutup pada September 2024 setelah aktivitas pengguna runtuh dan nilai tokennya anjlok sekitar 95% dari puncaknya.


















































Discussion about this post