ISTANAGARUDA.COM – Gejolak tajam kembali mengguncang pasar kripto global ketika tekanan jual besar-besaran, krisis likuiditas, dan volatilitas ekstrem menyeret nilai aset digital ke zona merah secara serempak.
Total kapitalisasi pasar kripto turun menjadi sekitar 2,57 triliun dolar AS.
Nilai tersebut merosot hampir 4 persen hanya dalam waktu 24 jam terakhir.
Harga Bitcoin turun hingga berada di kisaran 75.900 dolar AS.
Penurunan tersebut membuat Bitcoin melemah sekitar 13 persen dalam sepekan.
Ethereum diperdagangkan di sekitar 2.226 dolar AS.
Nilai Ethereum merosot lebih dari 21 persen dalam tujuh hari terakhir.
Tekanan penurunan harga tidak hanya terjadi pada dua aset kripto terbesar tersebut.
Aset kripto lain seperti XRP ikut mengalami pelemahan signifikan.
Solana juga mengalami penurunan tajam.
BNB turut masuk dalam tren penurunan harga.
Dogecoin menunjukkan kinerja negatif.
Cardano juga bergerak di zona merah.
Gelombang likuidasi besar menjadi faktor utama yang mempercepat penurunan pasar.
Sekitar 1,6 miliar dolar AS posisi perdagangan kripto dilikuidasi berdasarkan data yang dilaporkan pada akhir pekan.
Tekanan jual semakin meningkat saat perdagangan berlangsung pada periode likuiditas rendah.
Likuidasi paksa berantai memperbesar pergerakan harga secara ekstrem di pasar.
Saat perdagangan futures Amerika Serikat kembali dibuka, Bitcoin membentuk celah harga besar di CME sekitar 6.800 dolar AS di bawah harga penutupan Jumat.
Celah harga tersebut berada di sekitar level 77.700 dolar AS.
Level tersebut kini dipandang sebagai area resistensi oleh para trader.
Selama Bitcoin masih bergerak di bawah level tersebut, pelaku pasar melihat peluang penurunan lanjutan menuju kisaran 70.000 dolar AS.
Volatilitas harga Bitcoin terjadi dalam skala ekstrem.
Setelah pasar futures Amerika Serikat dibuka, harga Bitcoin turun sekitar 1.550 dolar AS hanya dalam waktu 12 menit.
Harga kemudian melonjak kembali hampir 1.900 dolar AS dalam waktu setengah jam.
Dalam periode volatilitas tersebut, sekitar 100 juta dolar AS posisi long dilikuidasi hanya dalam satu jam.
Open interest di pasar kripto secara keseluruhan turun lebih dari 10 persen.
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan leverage mulai berkurang drastis.
Sebagian investor menilai bahwa pasar kripto sedang mengalami kerusakan struktural.
Investor makro Raoul Pal menilai anggapan tersebut tidak tepat.
Ia menegaskan bahwa pergerakan Bitcoin dan saham teknologi Amerika Serikat, khususnya perusahaan SaaS, bergerak hampir identik.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa masalah yang terjadi bukan hanya pada sektor kripto.
Pal menjelaskan bahwa penyebab utama tekanan pasar adalah ketatnya likuiditas dalam sistem keuangan Amerika Serikat.
Pengelolaan kas pemerintah serta dampak kebijakan terkait penutupan aktivitas tertentu disebut mengurangi aliran dana di pasar.
Minimnya suntikan likuiditas baru membuat aset berisiko kehilangan aliran modal.
Pada saat yang sama, emas justru menyerap sebagian besar arus investasi global.
Kondisi tersebut membuat aliran dana ke aset berisiko seperti kripto dan saham teknologi semakin terbatas.
Bitcoin dan aset kripto dinilai sangat rentan terhadap perubahan likuiditas.
Hal tersebut disebabkan karena aset kripto tergolong aset berdurasi panjang yang sangat bergantung pada ketersediaan likuiditas besar.
Ketika likuiditas menurun, aset tersebut cenderung mengalami penurunan harga lebih cepat dibandingkan aset yang lebih aman.
Saat ini pasar kripto dinilai berada dalam kondisi yang disebut sebagai “kantong udara”.
Kondisi tersebut menggambarkan situasi likuiditas rendah.
Kondisi tersebut juga ditandai dengan meningkatnya ketakutan investor.
Situasi tersebut memicu fluktuasi harga yang sangat agresif.
Selama likuiditas global belum pulih, pasar kripto diperkirakan akan tetap bergerak dengan volatilitas tinggi.(*)



















































Discussion about this post