ISTANAGARUDA.COM – Di tengah tekanan geopolitik global yang semakin memanas, analis pasar ternama Tom Lee menyoroti pergeseran besar dalam peta kekuatan aset investasi dunia.
Ia melihat situasi perang saat ini sebagai peristiwa makro yang dipengaruhi oleh dua kekuatan besar yang saling berlawanan.
Di satu sisi, lonjakan harga energi menekan daya beli konsumen dan menjaga risiko inflasi tetap tinggi.
Namun di sisi lain, pengeluaran besar terkait perang justru menjadi stimulus ekonomi yang jauh lebih kuat.
Menurutnya, faktor ini membantu menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berjalan dan membuat beberapa aset tetap tangguh.
Dalam pernyataan yang disorot dari penampilannya di CNBC, Lee mengungkap bahwa Ethereum kini menjadi aset dengan kinerja terbaik kedua sejak konflik dimulai.
Posisi teratas ditempati oleh saham sektor energi.
Sementara itu, Bitcoin berada di peringkat ketiga.
Ia menambahkan bahwa kedua aset kripto tersebut berhasil mengungguli pasar saham secara keseluruhan.
Lee menilai bahwa fokus investor saat ini tertuju pada mandat ganda Federal Reserve.
Dua isu utama yang menjadi perhatian adalah risiko inflasi dan melemahnya pasar tenaga kerja.
Ia mengakui bahwa keseimbangan antara keduanya terlihat tidak stabil.
Namun, ia berpendapat bahwa dorongan pertumbuhan dari belanja perang lebih besar dibandingkan dampak negatif kenaikan harga bahan bakar terhadap konsumen.
Lee memperkirakan pengeluaran perang saat ini mencapai sekitar $30 miliar per bulan.
Ia juga membuka kemungkinan angka tersebut bisa melonjak hingga $100 miliar per bulan.
Sebagai perbandingan, setiap kenaikan harga bensin sebesar $10 disebut dapat menggerus daya beli konsumen sekitar $4 hingga $5 miliar per bulan.
Dalam pandangannya, efek stimulus dari belanja perang saat ini masih lebih dominan dibandingkan tekanan dari kenaikan harga minyak.
Ia juga menambahkan bahwa jika konflik berlangsung singkat dan pasar minyak tidak memperkirakan dampaknya hingga akhir tahun, maka kondisi ini lebih tepat disebut sebagai guncangan inflasi, bukan peristiwa inflasi jangka panjang.
Data harga bahan bakar turut memperkuat argumen terkait inflasi.
Grafik menunjukkan bahwa harga bensin di Amerika Serikat naik hingga sekitar $4,02 per galon setelah pecahnya konflik dengan Iran.
Laporan dari Reuters dan Axios menyebutkan bahwa harga rata-rata bensin di AS telah meningkat sekitar 35% hingga 36% sejak perang dimulai.
Kenaikan ini mendorong harga di SPBU menembus angka $4 untuk pertama kalinya sejak 2022.
Situasi tersebut memberikan tekanan tambahan bagi rumah tangga sekaligus memengaruhi ekspektasi inflasi pasar.
Meski demikian, Lee menilai kondisi jangka pendek belum mendukung pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Ia menyebut ekspektasi pasar saat ini sudah tepat.
Menurutnya, pemotongan suku bunga oleh bank sentral belum masuk akal untuk dilakukan dalam waktu dekat.
Dalam pemeringkatan kinerja aset selama periode konflik, saham energi masih menjadi yang terdepan.
Ethereum menempati posisi kedua.
Bitcoin berada di peringkat ketiga.
Lee menegaskan bahwa baik Ethereum maupun Bitcoin menunjukkan kinerja positif secara absolut dan melampaui performa saham.
Kondisi ini memberikan narasi makro yang lebih kuat bagi Ethereum.
Aset ini tidak lagi sekadar dipandang sebagai instrumen berisiko berbasis teknologi.
Kini, Ethereum mulai diposisikan sejajar dengan aset energi dalam konteks kinerja saat perang.
Bitcoin juga menunjukkan posisi yang semakin solid dalam kerangka analisis tersebut.
Hal ini menandakan bahwa kedua aset kripto utama tersebut semakin dilirik sebagai outperformer di tengah kondisi makro global yang penuh ketidakpastian.(*)















































Discussion about this post