ISTANAGARUDA.COM – Ketika volatilitas pasar kripto melonjak tajam sepanjang paruh kedua 2025, para trader Amerika Serikat menunjukkan tingkat kewaspadaan yang jauh melampaui rata-rata global dan mengirimkan sinyal penting tentang arah manajemen risiko industri.
Temuan ini berasal dari riset terbaru yang dirilis oleh Leverage.Trading.
Studi tersebut mengungkap bahwa trader kripto di Amerika Serikat melakukan pemeriksaan risiko likuidasi dua kali lebih banyak per individu dibandingkan rata-rata trader global selama periode volatilitas puncak.
Tim peneliti menganalisis sekitar 880.000 pemeriksaan risiko pra-transaksi anonim yang dikumpulkan antara Agustus hingga Desember 2025.
Dari kumpulan data tersebut terlihat pola perilaku yang relatif seragam di berbagai negara.
Mayoritas trader mengevaluasi level likuidasi mereka sejak awal sebelum membuka posisi.
Ketika volatilitas meningkat, banyak di antara mereka menambah margin untuk memperkuat posisi.
Namun intensitas aktivitas di Amerika Serikat tercatat lebih tinggi dibanding yurisdiksi lain.
Hal ini mengindikasikan partisipasi pasar yang lebih agresif sekaligus pendekatan yang lebih defensif.
Data juga menunjukkan trader AS melakukan pengecekan margin dan potensi likuidasi lebih awal, bahkan beberapa hari sebelum gejolak besar terjadi.
Survei tersebut menyoroti perubahan signifikan dalam karakter trader kripto Amerika.
Pendekatan yang lebih berhati-hati kini menjadi pola dominan.
Sebagian besar responden secara rutin memeriksa jarak posisi mereka terhadap ambang likuidasi sebelum mengambil keputusan transaksi.
Saat posisi telah dibuka, mereka terus memantau perkembangan pasar dan mengevaluasi seberapa dekat posisi tersebut terhadap risiko terlikuidasi.
Pendiri Leverage.Trading, Anton Palovaara, menyatakan bahwa tren ini mencerminkan transformasi penting dalam dinamika pasar kripto.
Ia menilai pola tersebut dapat menjadi indikator tekanan yang sedang terbentuk di pasar leverage bahkan sebelum angka likuidasi muncul dalam data publik.
Meningkatnya frekuensi pemeriksaan risiko tidak serta-merta berarti trader ritel mampu memprediksi arah pasar.
Namun kecenderungan ini memberi gambaran bahwa kekhawatiran terhadap potensi penurunan harga sudah muncul ketika tekanan pasar masih berkembang di balik layar.
Sebagai strategi, sebagian besar trader yang melakukan pengecekan risiko likuidasi bertujuan mengukur seberapa besar ruang aman posisi mereka.
Banyak di antara mereka kemudian menyuntikkan dana tambahan untuk meningkatkan margin agar tidak terlempar dari pasar saat volatilitas memuncak.
Bagi pelaku industri dan pengambil keputusan di level manajemen, pola ini menjadi alarm dini bahwa perilaku defensif ritel dapat mencerminkan meningkatnya ketegangan struktural di pasar derivatif kripto.(*)















































Discussion about this post