ISTANAGARUDA.COM – Di tengah lanskap keuangan global yang terus berubah akibat sanksi dan disrupsi teknologi, bank sentral Rusia membuka babak baru dengan mempertimbangkan penerbitan stablecoin yang dipatok pada rubel.
Bank of Russia pada 12 Februari mengumumkan rencana untuk mengkaji kemungkinan penerbitan stablecoin berbasis rubel.
Langkah ini menandai perubahan sikap dari posisi sebelumnya yang cenderung menolak token digital yang dipatok pada mata uang fiat.
Wakil Gubernur Pertama Vladimir Chistyukhin menyampaikan rencana tersebut dalam konferensi Alfa Talk di Moskow yang membahas aset keuangan digital dan struktur pasar.
Ia menjelaskan bahwa selama ini regulator secara tradisional menolak konsep stablecoin yang terhubung langsung dengan mata uang nasional.
Namun kini otoritas moneter berniat meninjau ulang pendekatan tersebut.
“Kami berencana melakukan studi tahun ini untuk menilai kembali situasinya,” kata Chistyukhin.
Ia menambahkan bahwa bank sentral akan mengevaluasi risiko serta potensi manfaatnya.
Setelah proses kajian selesai, hasilnya akan dipublikasikan untuk didiskusikan secara terbuka.
Meski demikian, bank sentral belum mengambil keputusan untuk benar-benar menerbitkan stablecoin.
Inisiatif tersebut masih berada pada tahap penelitian awal.
Sanksi Mengubah Strategi Pembayaran
Tekanan sanksi Barat telah mengubah wajah sistem keuangan Rusia secara signifikan.
Sejak pecahnya perang di Ukraina, banyak bank Rusia kehilangan akses ke jaringan pembayaran global utama.
Transaksi lintas negara pun menjadi lebih lambat dan kompleks.
Kondisi tersebut mendorong otoritas mencari instrumen alternatif untuk penyelesaian pembayaran internasional.
Penggunaan kripto meningkat dalam kerangka hukum eksperimental yang diadopsi pemerintah.
Pemerintah juga mengizinkan sebagian pembayaran lintas batas menggunakan kripto serta investasi pada derivatif yang terkait aset digital.
Kementerian Keuangan Rusia dalam pembaruan terpisah menyebut volume perdagangan kripto harian di dalam negeri kini mencapai sekitar 50 miliar rubel atau setara kurang lebih 650 juta dolar AS.
Pejabat menyatakan aset digital telah memainkan peran dalam sebagian penyelesaian transaksi internasional.
Stablecoin yang dipatok pada rubel dinilai dapat menjadi opsi tambahan.
Instrumen tersebut berpotensi mempercepat penyelesaian transaksi dan mengurangi ketergantungan pada mata uang asing dalam perdagangan dengan negara mitra.
Sorotan pada Aktivitas Stablecoin yang Sudah Ada
Perbincangan ini menguat seiring meningkatnya perhatian terhadap A7A5.
A7A5 merupakan stablecoin berbasis rubel yang diterbitkan di Kirgizstan oleh perusahaan yang dikaitkan dengan kepentingan Rusia.
Dalam tahun pertama operasinya, A7A5 dilaporkan memproses transaksi lebih dari 100 miliar dolar AS.
Kapitalisasi pasarnya telah melampaui 500 juta dolar AS sehingga menjadikannya salah satu stablecoin non-dolar terbesar.
Otoritas Rusia mengklasifikasikan A7A5 sebagai aset keuangan digital.
Status tersebut memungkinkan perusahaan domestik memanfaatkannya untuk penyelesaian transaksi internasional.
Di sisi lain, sejumlah pemerintah Barat menjatuhkan sanksi terhadap platform yang terkait dengan token tersebut.
European Union bahkan mengusulkan langkah tambahan guna membatasi saluran kripto yang dinilai dapat memfasilitasi arus keuangan Rusia.
Perkembangan ini meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas stablecoin yang berhubungan dengan Rusia.
Rubel Digital Tetap Jadi Prioritas
Di tengah wacana stablecoin, Bank of Russia tetap memprioritaskan pengembangan rubel digital.
Mata uang digital bank sentral tersebut memasuki fase uji coba pada 2024 dengan melibatkan ratusan ribu partisipan.
Peluncuran lebih luas ditargetkan pada 2026 dengan penggunaan oleh pemerintah direncanakan lebih awal.
Pejabat belum menjelaskan bagaimana stablecoin potensial akan berinteraksi dengan rubel digital.
Analis menilai kedua instrumen tersebut akan memiliki fungsi berbeda.
Rubel digital merupakan alat pembayaran sah yang diterbitkan negara, sedangkan stablecoin dapat beroperasi dalam kerangka regulasi terpisah.
Chistyukhin menyatakan bank sentral akan mempelajari berbagai model termasuk penerbitan oleh negara atau token swasta yang diatur ketat.
Regulator akan menelaah risiko stabilitas keuangan, pengendalian anti pencucian uang, serta standar perlindungan data.
Ia juga menyebut bahwa bank sentral dan pemerintah nasional berharap RUU regulasi kripto dapat disahkan pada sesi musim semi State Duma.
Hasil studi ini berpotensi menentukan arah integrasi aset digital dalam sistem keuangan Rusia pada tahun-tahun mendatang.(*)















































Discussion about this post