Sikap ini membuat sejumlah perusahaan, termasuk dalam pengajuan ETF Ethereum sebelumnya, memilih untuk menghapus fitur staking demi lolos persetujuan.
Meski terdapat sinyal bahwa SEC mulai melunak terhadap kripto pasca kembalinya Donald Trump ke panggung kekuasaan, regulator masih menunjukkan keraguan terhadap ETF dengan fitur staking.
Contohnya, permintaan Grayscale untuk menambahkan staking dalam produk ETH Trust mereka pun masih ditunda hingga kini.
Di sisi lain, kompleksitas pengajuan ETF TRX ini juga ditambah dengan latar belakang sang pendiri TRON, Justin Sun, yang masih memiliki catatan hukum dengan SEC. Pada tahun 2023, ia dituduh memanipulasi token TRX dan BTT.
Meski kasusnya dikabarkan hampir mencapai tahap penyelesaian, bayang-bayangnya masih menghantui rencana ETF ini.
Posisi TRON di Pasar Kripto Global
Terlepas dari kontroversinya, TRX masih bertengger di jajaran 10 besar aset kripto dengan kapitalisasi pasar tertinggi, bernilai lebih dari US$22 miliar.
Data dari StakingRewards menunjukkan bahwa para pemegang TRX bisa memperoleh imbal hasil tahunan sekitar 4,5% melalui staking, menjadikannya pilihan menarik bagi investor yang memburu pendapatan pasif.
Selain itu, jaringan TRON juga memiliki peran besar dalam ekosistem stablecoin, terutama USDT (Tether).
TRON dikenal sebagai salah satu jaringan dengan volume transaksi USDT terbesar di dunia, berkat kapasitas besar dan biaya transaksi yang sangat rendah.
Aktivitas USDT inilah yang menjadi pendorong utama tingginya lalu lintas di jaringan TRON.
Discussion about this post