Dengan adanya pembangunan toilet seluas 20.000 m², ruang per jemaah di Muzdalifah menjadi semakin sempit, hanya sekitar 0,29 m² per orang, yang berpotensi membahayakan keselamatan jemaah karena kepadatan yang tinggi.
Skema murur diprioritaskan bagi jemaah dengan risiko tinggi secara medis, lanjut usia, disabilitas, dan para pendamping mereka.
Direktur Bina Haji, Arsad Hidayat, menambahkan bahwa pihaknya telah berdiskusi dengan berbagai pihak di Arab Saudi dan sejumlah organisasi keagamaan di Indonesia seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dan Al Wasliyah.
“Kami juga berdiskusi dengan Mustasyar Diny yang terdiri dari para ulama. Mereka mendukung penuh rencana skema murur yang akan dijalankan pemerintah. Pelaksanaan murur direncanakan mulai pukul 19.00 dan diharapkan selesai pada pukul 22.00,” ujar Arsad.
Arsad menegaskan bahwa keselamatan jiwa jemaah adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
Dengan skema murur ini, diharapkan jemaah dapat menjalankan ibadah dengan lebih aman dan nyaman, sekaligus mematuhi kaidah fikih yang berlaku.
Dengan adanya inovasi ini, pelaksanaan ibadah haji diharapkan dapat berjalan lebih lancar dan mengurangi risiko yang bisa membahayakan jemaah. Skema murur menjadi langkah konkret pemerintah dalam memastikan setiap jemaah dapat menunaikan ibadah dengan selamat dan khusyuk.(*)
















































Discussion about this post