Menanggapi dinamika terkini, Presiden juga menyoroti dampak konflik di Timur Tengah yang turut memicu gejolak harga energi global.
Meski demikian, Presiden memastikan bahwa posisi Indonesia saat ini masih dalam kondisi relatif aman.
“Saya telah mempelajari data-data dan angka-angka, dan dalam kesempatan hari ini saya dapat laporan dari menteri-menteri saya, ternyata kondisi kita cukup aman. Ada tantangan, ada kesulitan, tapi kita mampu menghadapi dan mampu mengatasinya,” tegasnya.
Untuk memastikan ketahanan energi tetap terjaga, pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah konkret dalam jangka pendek.
Presiden menekankan bahwa periode 12 bulan ke depan menjadi fase krusial yang harus dikelola dengan disiplin tinggi.
“Sebagian langkah-langkah untuk kita kendalikan konsumsi daripada bahan bakar untuk jangka pendek ini. Jangka pendek yang saya anggap kritis adalah 1 tahun ke depan ini, 12 bulan ke depan. Sesudah 12 bulan, kita akan menjadi sangat kuat. Intinya sekarang kita siap, kita kuat menghadapi satu tahun ini,” ungkap Presiden.
Selain itu, pemerintah memastikan keberlanjutan perlindungan terhadap masyarakat melalui kebijakan subsidi energi yang tepat sasaran.
Presiden menegaskan bahwa subsidi akan tetap difokuskan untuk kelompok masyarakat yang membutuhkan.
“Untuk BBM yang bersubsidi, kita akan pertahankan untuk rakyat kecil dan rakyat miskin. Kita akan pertahankan untuk 80 persen rakyat kita. Tapi pada saatnya, orang-orang kuat, orang-orang kaya, kalau mau pakai bensin yang mahal, dia harus bayar harga pasar,” ujar Presiden.
















































Discussion about this post