Presiden kemudian mengulas kembali momen bersejarah Sumpah Pemuda sebagai fondasi persatuan bangsa Indonesia yang melampaui perbedaan suku, agama, dan budaya.
Menurutnya, keputusan para pendiri bangsa untuk menyatukan Indonesia melalui satu bahasa merupakan bukti kedewasaan politik dan kebesaran jiwa kolektif bangsa.
“Kalau prinsip demokrasi di mana-mana, dikatakan rule of the majority. Bisa saja dulu bangsa Jawa atau suku Jawa yang paling banyak,” ujar Presiden Prabowo.
“Kita pilih bahasa sebuah suku yang sangat kecil di Sumatra, dari Riau, daerah situlah, bahasa Melayu jadi bahasa kebangsaan dan rakyat mayoritas menerima. Kita sekarang punya bahasa persatuan. Dari Sabang sampai Merauke, di mana-mana berbahasa Indonesia,” imbuh Presiden.
Selain Sumpah Pemuda, Presiden juga menegaskan pentingnya konsensus kedua dalam sejarah bangsa, yaitu lahirnya konstitusi pada tahun 1945.
Ia menekankan bahwa Pancasila sebagai dasar negara merupakan hasil kesepakatan luhur yang menjamin keberagaman tetap terjaga dalam bingkai persatuan.
Presiden menyatakan bahwa Indonesia secara sadar memilih sistem demokrasi sebagai dasar kehidupan bernegara.
“Kondisi seperti ini, kita selalu berpegang teguh kepada konsensus-konsensus besar. Kita telah memilih bernegara secara demokrasi. Demokrasi, kedaulatan di tangan rakyat,” ujar Presiden Prabowo.
Di akhir arahannya, Presiden mengajak seluruh jajaran pemerintahan untuk tetap konsisten menjaga nilai-nilai hukum, demokrasi, dan persatuan nasional.
Ia menegaskan bahwa stabilitas negara hanya dapat dicapai jika seluruh elemen bangsa berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar tersebut.

















































Discussion about this post