Langkah tersebut akan dibarengi dengan penghentian bertahap penggunaan pembangkit listrik tenaga diesel yang selama ini masih bergantung pada impor bahan bakar.
“Dari menutup itu, kita akan menghemat 200 ribu barrel sehari. Kita masih perlu impor, sekarang ini 1 juta barrel sehari. Dengan kita tutup PLTD, kita menghemat langsung 20 persen,” jelas Presiden.
Melalui kebijakan ini, Indonesia diproyeksikan mampu mengurangi ketergantungan impor energi secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Pemerintah juga terus mendorong pengembangan bahan bakar alternatif berbasis sumber daya domestik, termasuk pemanfaatan kelapa sawit dan limbah minyak goreng untuk produksi avtur ramah lingkungan.
Di tengah transformasi energi tersebut, Presiden juga menyampaikan optimisme besar terhadap masa depan Indonesia sebagai kekuatan global.
Ia menegaskan bahwa Indonesia memiliki fondasi kuat untuk bangkit dan memainkan peran penting di panggung dunia.
“Kita harus waspada, tapi kita optimis, kita akan menghadapi tantangan beberapa bulan yang akan datang, tapi kita punya resources, kita punya sumber-sumber yang sangat kuat, sangat banyak, walaupun bagaimana kita harus hemat energi, walaupun bagaimana kita harus sekarang menuju energi yang bersih, energi terbarukan,” ujar Presiden.
Presiden kembali menekankan bahwa kemandirian pangan dan energi adalah kunci utama untuk memastikan keberlanjutan dan pertumbuhan bangsa.
“Negara yang sebesar kita kalau masih mau merdeka, kalau masih mau survive, bertahan hidup, mau tidak mau kita harus mandiri di bidang-bidang yang paling menentukan, yaitu di antaranya yang paling utama tentu pangan, habis itu energi,” tegas Presiden.

















































Discussion about this post