Di antara seluruh pemimpin dunia yang hadir, Presiden Prabowo tercatat sebagai satu-satunya kepala negara yang menggelar pertemuan bilateral langsung dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Jadi Bapak Presiden melakukan bilateral dengan Presiden Donald Trump, jadi kemarin ada lebih dari 15 Kepala Negara dan Pemerintah, jadi kemudian satu-satunya Kepala Negara yang melakukan bilateral dengan Presiden Trump itu salah satunya, dan satu-satunya adalah Presiden Prabowo,” ungkap Seskab Teddy.
Setelah penandatanganan perjanjian perdagangan, kedua pemimpin melanjutkan diskusi dalam pertemuan tertutup selama kurang lebih 30 menit.
Berbagai isu strategis dibahas dalam suasana yang disebut konstruktif dan penuh semangat kolaborasi.
“Kemudian Presiden Prabowo dan Presiden Trump melaksanakan pertemuan, kurang lebih sekitar 30 menit, tentunya banyak pembicaraan di sana, dan kita tunggu, mungkin dalam waktu dekat, yang sekarang 19 persen, ya mungkin ke depan akan menjadi lebih baik lagi untuk Indonesia, kita tunggu saja,” pungkas Seskab Teddy.
Keberhasilan ini menegaskan efektivitas diplomasi langsung di tingkat kepala negara dalam mengamankan kepentingan ekonomi nasional.
Penurunan tarif tersebut diproyeksikan meningkatkan daya saing produk Indonesia di pasar Amerika Serikat sekaligus memperluas ruang ekspansi ekspor nasional di tengah dinamika perdagangan global.
Langkah ini juga memperkuat posisi Indonesia dalam arsitektur ekonomi internasional serta menunjukkan bahwa pendekatan proaktif mampu menghasilkan manfaat nyata bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.(*)

















































Discussion about this post