Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak melupakan dukungan Amerika Serikat pada masa perjuangan kemerdekaan periode 1945–1949.
“Indonesia akan selalu mengingat peran yang dimainkan Amerika Serikat dalam sejarah kami. Amerika Serikat berperan penting dalam mendukung perjuangan kemerdekaan kami,” kata Presiden.
Presiden Prabowo menjelaskan bahwa prinsip politik luar negeri Indonesia yang non-blok tidak pernah dimaksudkan untuk menjauh dari negara manapun.
Sebaliknya, Indonesia tetap membuka diri untuk membangun persahabatan erat dengan seluruh kekuatan besar dunia.
“Kami selalu ingin melihat kehadiran Amerika yang kuat di Indonesia. Kami selalu mencoba meyakinkan Amerika Serikat bahwa Indonesia adalah sahabat sejati, meskipun mungkin secara politik kita memiliki tradisi non-blok” tegas Presiden.
Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, Presiden menilai kolaborasi lintas negara menjadi kebutuhan mendesak.
Ia juga menyambut positif komitmen kepemimpinan Amerika Serikat dalam mendorong stabilitas dan perdamaian internasional.
“Saya melihat ada kemauan besar dari para pemimpin Amerika Serikat saat ini untuk menciptakan iklim perdamaian. Mungkin ini tidak memuaskan semua pihak, tetapi setidaknya kita harus mencoba,” ujar Presiden.
Presiden Prabowo menutup pernyataannya dengan menegaskan komitmen Indonesia untuk memperluas kerja sama dengan Amerika Serikat di berbagai sektor strategis.
“Kami menginginkan hubungan terbaik dengan Amerika Serikat di semua bidang,” pungkasnya.
Momentum Gala Iftar tersebut memperlihatkan bahwa kemitraan Indonesia dan Amerika Serikat kini berdiri di atas tiga pilar utama, yakni kepentingan ekonomi, warisan sejarah, dan visi masa depan yang saling memperkuat di tengah dinamika global.(*)

















































Discussion about this post