Mantan Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda menilai forum tersebut menghadirkan wawasan baru yang sebelumnya sulit diperoleh karena banyak isu diplomasi bersifat sensitif.
Ia menyampaikan bahwa keterbatasan akses informasi publik seringkali menimbulkan interpretasi yang tidak utuh mengenai kebijakan luar negeri pemerintah.
“Karena itu satu kesempatan berharga, waktu sore ini kita mendapat pencerahan dan banyak informasi yang tidak kita ketahui,” ungkapnya.
Mantan Menteri Luar Negeri Alwi Shihab menegaskan bahwa diskusi tersebut memperkuat posisi Indonesia yang tetap konsisten memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
Ia menilai pemerintah Indonesia terus memegang teguh prinsip solusi dua negara sebagai landasan utama penyelesaian konflik Palestina.
“Indonesia tidak pernah meninggalkan komitmen terhadap perjuangan Palestina, dan tetap menginginkan adanya two-state solution. Itu kalau istilah awamnya, itu adalah harga mati. Two-state solution,” tegasnya.
Tokoh senior diplomasi Jusuf Wanandi menilai Presiden Prabowo telah menyampaikan penjelasan yang komprehensif mengenai arah kebijakan luar negeri Indonesia.
Ia juga menilai Presiden mampu menjawab berbagai isu strategis bahkan sebelum diajukan secara langsung oleh para peserta diskusi.
“Jadi ini adalah kesempatan saya kira yang dibuka oleh Bapak Presiden yang harus kita hargai dan harus dapat kita pergunakan bersama,” tuturnya.
Pertemuan tersebut menunjukkan komitmen Presiden Prabowo untuk membangun tata kelola diplomasi yang inklusif, transparan, serta memperkuat posisi Indonesia dalam menjaga kepentingan nasional dan stabilitas global.(*)














































Discussion about this post