Dalam pidato bernada tegas, Prabowo memberi label baru atas praktik ekonomi rakus yang mencabik keadilan sosial: “serakahnomics.”
Ia menolak memasukkan situasi ini ke dalam arus besar liberal, neoliberal, pasar bebas, sosialis, atau komando karena sifatnya berbeda dan merusak.
“Ada yang mengatakan ada mazhab ekonomi liberal, neoliberal, klasik, pasar bebas, sosialis, ekonomi komando dan sebagainya. Ini bukan. Ini lain. Ini saya beri nama. Serakahnomics. Ini adalah serakahnomics,” kata Presiden Prabowo.
Pengawasan distribusi pangan akan diperkuat dengan jaringan laboratorium mutu, teknologi pelacakan rantai pasok, dan kecerdasan buatan sehingga kecurangan dapat cepat terdeteksi.
Namun kunci terbesarnya tetap pada keberanian politik menegakkan Pasal 33 UUD 1945 dan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan kapital spekulatif.
“Saya yakin seluruh MPR, DPD, DPR akan dukung saya. Saya yakin semua kepala desa di seluruh Indonesia akan bersama saya. Mari kita tegakkan kebenaran dan keadilan. Kita tegakkan kepentingan bangsa dan rakyat di atas segala kepentingan lain. Jangan kita lihat partai, kelompok, jangan. Hanya di dada kita hanya merah putih,” pungkas Presiden Prabowo dengan optimis.(*)















































Discussion about this post