Salah satu sumber yang mengetahui isi percakapan antara Trump dengan pemimpin Ukraina dan Eropa mengatakan bahwa para peserta “terkejut” karena Trump tidak ingin menekan Putin dengan sanksi.
Ketua Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, hanya menyebut dalam unggahannya di X bahwa pembicaraan dengan Trump berlangsung “baik” dan bahwa “penting bagi AS untuk tetap terlibat”.
Pemerintah Ukraina dan para pendukungnya menuduh Rusia tidak melakukan negosiasi dengan itikad baik, dan hanya berusaha sebatas mencegah Trump dari menjatuhkan tekanan ekonomi lebih lanjut.
Jika Trump benar-benar menjatuhkan sanksi baru, hal itu akan menjadi momen penting, mengingat selama ini ia cenderung simpatik terhadap Moskow dan membatalkan kebijakan pro-Ukraina dari pendahulunya, Joe Biden.
Atas dorongan Trump, delegasi dari kedua pihak sempat bertemu pekan lalu di Istanbul untuk pertama kalinya sejak 2022, namun pertemuan itu gagal menghasilkan kesepakatan gencatan senjata. Harapan semakin pudar setelah Putin menolak ajakan Zelensky untuk bertemu langsung di sana.
Putin, yang pasukannya kini menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina dan terus melancarkan serangan, tetap bersikeras pada sejumlah syarat untuk mengakhiri perang. Salah satunya adalah penarikan pasukan Ukraina dari empat wilayah yang diklaim Rusia.
Ia menyatakan bahwa memorandum yang akan disusun bersama Ukraina nantinya akan mencakup “beberapa poin penting, seperti prinsip penyelesaian dan waktu yang mungkin untuk mencapai kesepakatan damai”.
“Yang terpenting bagi kami adalah menghapus akar penyebab dari krisis ini,” kata Putin. “Kami hanya perlu menentukan cara paling efektif untuk bergerak menuju perdamaian.”(*)
Discussion about this post